Selasa, 19 Desember 2017 10:25

Kendaraan RK dan Demiz Gembos, Terancam Tak Sampai Gedung Sate

Reporter : Jumadi Kusuma
Demiz (kiri) dan RK (kanan), terancam tak sampai ke Gedung Sate.
Demiz (kiri) dan RK (kanan), terancam tak sampai ke Gedung Sate. [Limawaktu]

Oleh: Arlan Sidha, S.Ip., M.A. Pengamat Politik UNJANI

Limawaktu.id - Pasca mundurnya Golkar, Koalisi parpol yang dibangun Ridwan Kamil (RK) terancam bubar. Masih tersisa 21 kursi setelah Golkar hengkang, yaitu Nasdem 5 kursi, PKB 7 kursi dan PPP 9 kursi.

Jika Uu Ruhmazul Ulum dari PPP tidak diakomodir sebagai calon wakil gubernur RK, kemungkinan besar PPP akan keluar dari koalisi. Sebaliknya jika PKB tidak terakomodir atau tidak mendapat titik temu dalam menetapan calon pendamping RK maka bukan tidak mungkin bisa keluar dari koalisi, hasilnya tiket untuk mencalonkan gubernur tidak memenuhi syarat dan persis koalisi ini bisa bubar.

RK dalam waktu dekat ini harus segera melakukan komunikasi dengan partai pengusung perihal masa depan koalisi, komunikasi yang dimaksud adalah membuka ruang dialog untuk wakilnya, sekaligus melihat kembali peta politik Jawa Barat karena cepat sekali mengalami dinamika perubahan.

Di kubu yang lain meskipun Golkar sudah mencabut dukungan terhadap RK, namun Golkar belum menentukan pilihannya. Jika Dedi Mulyadi (Demul) terpilih, Golkar masih perlu kawan koalisi. Golkar perlu melakukan komunikasi politik juga dengan beberapa partai. Golkar memiliki peluang koalisi dengan semua partai sampai sekarang hubungan komunikasi golkar dengan partai lain di Jawa Barat clear. Bisa saja Golkar berkoalisi dengan PDIP dan Hanura, atau dengan Gerindra dan parpol lainnya, peluang ini masih terbuka lebar.

Harus diperhitungkan juga sikap PDIP yang sampai sekarang belum memberi sinyal politik, ini bisa membuat peta politik Jawa Barat berubah, jika saja PDIP sudah menetapkan calon, karena PDIP memenuhi syarat kursi untuk mengusung sendiri.

Disisi lain Deddy Mizwar (Demiz) bisa kehilangan PAN dan PKS, jika komunikasi politik yang dibangun Gerindra berhasil menarik kedua parpol tersebut, bukan tidak mungkin di Jawa Barat terbentuk koalisi reuni seperti di Jakarta dalam memenangkan Anies dan Sandi.

Komunikasi politik di Jawa Barat antar partai sangat tertutup, sehingga sulit untuk membaca gerak partai, dinamika politik yang sangat dinamis dan sangat cepat berubah membuat masyarakat menunggu siapa yang akan diusung secara pasti dari partai politik. (jk)*

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer