Rabu, 11 Oktober 2017 17:33

Kata Dedi Mizwar, "Pencemaran Limbah di Citarum Terkendala Penegakan Hukum"

Dedi MIzwar, Wakil Gubernur Jawa Barat.
Dedi MIzwar, Wakil Gubernur Jawa Barat. [Limawaktu]

Limawaktu.id  - Perubahan warna Air Sungai Citarum diindikasi disebabkan air limbah industri, pasalnya wilayah Kabupaten Bandung dikelilingi oleh pabrik. Sebelumnya, kondisi air Sungai Citarum di penuhi dengan sampah, sehingga airnya pun terlihat hitam pekat.

Wakil Gubernur Jabar, Dedi Mizwar mengatakan, air sungai Citarum kali ini sudah bersih dari sampah, tapi terlihat hitam karena diduga disebabkan limbah pabrik yang berada di Kabupaten Bandung. 

Saat ditanya terkait penegakan dari pihak Pemerintan Provinsi Jabar, dia pun menjawab pasti ujungnya penegakan hukum, dan pihaknya pun mengaku telah mengundang beberapa kali pemilik pabrik namun ada yang datang dan tidak datang. Maka, begitu musim hujan air sungai Citarum berbagai warna, ada merah, hijau, biru, hitam dan segala macam.

"Penertiban sudah dilakukan tapi kita terkenadala di penegakan hukum, bagaimana pabrik-pabrik tersebut tidak membuang limbah seperti itu. Di tuntut di pengadilan juga kita kalah terus. Jadi permasalahannya di penegakan hukum," kata Dedi saat wawancara, Rabu (11/10).

Menurutnya, harus ada teknologi baru, contohnya seperti IPAL komunal, sehingga, tidak semua pabrik di bebankan membuat IPAL, namun ada perusahaan yang mengelola ipalnya, jadi mereka bisa lebih murah, itu pun belum tentu mereka turuti, jadi harus ada kebijakan yang menyeluruh. 

"Sekarang ini kan sudah tidak ada jamannya lagi setiap pabrik mempunyai Ipal. Karena di negara maju tidak seperti itu, pengelolaan limbah oleh satu perusahaan untuk beberapa perusahaan, sehingga setiap perusahaan tidak dibebankan mempunyai ipal," ucapnya.

Namun, lanjut Dedi, persoalannya sekarang, di wilayah Kabupaten Bandung dimana-mana tersebar pabrik dan kawasan industri. Hampir disemua anak sungai. Sehingga, harus membuat khusus kawasan industri dan semuanya pabrik pindah kesana. 

"Semuanya pabrik harus pindah ke kawasan yang disediakan, jadi harus ada yang ekstrim, tanpa ada yang ekstrim semuanya tidak bisa mengatasinya, kalau tidak bisa semua anak sungai tercemar," pungkasnya. (lie)*