Kamis, 11 Januari 2018 18:23

Kasus Pencabulan Terhadap Anak Dibawah Umur Mengkhawatirkan, Begini Kata Ahli Psikologi

Reporter : Fery Bangkit 
Ilustrasi
Ilustrasi [Pixabay]

Limawaktu.id – Kasus pencabulan hingga persetubuhan terhadap anak dibawah umur semakin mengkhawatirkan. Apalagi, perilaku abnormal tersebut dilakukan oleh oknum pendidik.

Terbaru, ada seorang oknum guru ngaji berinisial AA (43). Pemilik salah satu pesantren di Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat tersebut, ditetapkan sebagai tersangka kasus pencabulan hingga persetubuhan terhadap muridnya sendiri.

Kasus serupa pun terjadi di Kabupaten Bandung. Kali ini, kelakukan bejat itu dilakukan seorang ketua yayasan salah satu pondok pesantren di Pacet, Kabupaten Bandung, berinisial  AL (41).

Di mata Ahli Psikolog Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Miryam Ariadne Sigarlaki, aktifitas pencabulan hingga persetubuhan oleh orang dewasa terhadap anak dibawah umur jelas merupakan prilaku amoral dan abnormal.

“Itu jelas penyimpangan seksual,” ucap Miryam saat dihubungi via pesan, Kamis (11/1/2018).

Dijelaskannya, pelaku-pelaku tersebut termasuk dalam kategori pedofilia alias gangguan pada orang dewasa yang melampiaskan hasrat seksualnya pada anak di bawah umur.

“Demi memenuhi kepuasan seksualnya,” katanya.

Menurut Miryam, setiap manusia termasuk oknum guru ngaji sekalipun pasti memiliki dorongan hasrat untuk memenuhi kebutuhan primernya. Seperti makan minum dan seks. Dorongan seks akan muncul secara biologis, sesuai dengan kebutuhan diri masing-masing.  

Namun, kata dia, seharunya dorongan seks tersebut dapat dikendalikan apabila pelaku memiliki norma sosial, nilai agama dan budaya.

“Apalagi yang notabenya mengalami gangguan seksual, akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasratnya,” ujarnya.

Ditegaskan Miryam, apapun alasan pelaku, termasuk dalih kemasukan jin atau pengobatan, itu hanya rasionalisasi saja agar dapat diterima prilakunya oleh korban.

Jelasnya, kata dia, ada masalah dorongan seksual yang tidak bisa dibendung, sehingga dapat menghalalkan segala cara untuk memenuhi fantasi seksualnya.

“Fantasinya memang yang menarik bagi pelaku itu adalah anak kecil,” pungkasnya. (kit)*