Minggu, 26 November 2017 12:10

Kang Dedi dan Politik Air Mengalir

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi di sebuah acara
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi di sebuah acara [net]

Penulis : Mahya Lengka

Limawaktu, - Jatuhnya Setya Novanto dari ketum Golkar sudah keniscayaan. Meskipun rapat pleno DPP Golkar kemarin masih menunggu hasil pra peradilan, tetapi secara psikologis di kalangan grassroot Golkar, setnov sudah habis. Apalagi di kalangan publik secara umum.

Kejatuhan Setnov dari ketum Golkar hanya tinggal menunggu legalisasi organisatoris dalam forum tertinggi, yakni Munas atau Munaslub. Dan lubang ke arah sana kian menganga, karena lebih dari 2/3 DPD menghendakinya. Ditambah dengan adanya dukungan sejumlah senior berpengaruh Golkar, seperti JK, Akbar Tanjung dan Agung Laksono.

Dan di balik kejatuhan Setnov yang telah membuat elektabilitas Golkar terjun bebas, justru muncul bintang baru di internal Golkar. Namanya makin sering disebut oleh kalangan elit Golkar, dan menjadi tokoh sentral yang mendorong Munaslub partai. Dia bukan sosok asing, dan sudah akrab di kalangan masyarakat, bahkan secara nasional. Yakni Dedi Mulyadi.

Didorong oleh semangat untuk menyelamatkan Golkar dari keterpurukan massif dan berkelanjutan, akibat sosok dan kebijakan ketumnya, Setnov, Kang Dedi memimpin gerakan DPD secara nasional untuk menyelamatkan Golkar. Salah satu caranya adalah dengan forum Munaslub itu.

Dalam hari-hari ini, nama KDM selalu dikaitkan dengan wacana Munaslub Golkar. Sejumlah stasiun TV juga cukup sering mewawancarainya (baik langsung maupun lewat telekonferensi) berkaitan isu ini. Sehingga tak pelak, nama KDM malah seolah identik dengan sosok penyelamat Golkar saat ini.

Dengan kemampuan leadershipnya yang menggalang lebih dari 2/3 DPD provinsi untuk Munaslub, tak pelak lagi ini membuat KDM menjadi sorotan dan masuk dalam bursa ketum itu sendiri. Memang belum secara tegas namanya disebut-sebut oleh para elit Golkar. Namun, sinyal ke arah sana bisa ditangkap.

Misalnya ucapan Akbar Tanjung bahwa Golkar mesti dipimpin oleh kader muda, yang loyal, dan berdedikasi tinggi. Hal sama juga dilontarkan oleh Agung Laksono. Tak ayal, ucapan ini mengisyaratkan pada sosok KDM. Meskipun yang muda tidak sedikit, namun konteks dan gerakan perubahan yang dipimpin oleh KDM dengan para DPD secara nasional, mengindikasikan bahwa KDM kemungkinan besar adalah sosok yang dimaksud.

Dari yang kita dengar lewat pernyataan KDM, tujuan gerakan DPD ini adalah menyelamatkan Golkar dari keterpurukan. Tidak berkaitan dengan rekomendasi pilgub Jabar, apalagi posisi ketum. Namun, siapa yang bisa meramal sejarah seseorang?

Artinya, bisa jadi gerakan perubahan di tubuh Golkar ini akan berujung pada kesegaran sosok ketumnya. Dan Kang Dedi bisa jadi orangnya. Jika ini yang terjadi, maka inilah takdir politik yang tidak pernah disangka-sangka.

Jika misalnya benar KDM kelak menjadi ketum Golkar, lalu bagaimana posisinya dalam pilgub Jabar nanti?

Tentu saja ini akan memuluskannya mendapatkan tiket pilgub. Kelak, ia bisa menjadi gubernur Jabar sekaligus ketum Golkar. Itu berarti ia mengulangi posisinya sebelum ini. Ketika ia menjadi bupati Purwakarta, ia menjadi ketua DPD provinsi Jabar. Itu setara dengan posisi ia jadi guberur Jabar sekaligus memimpin partai besar secara nasional.

Dan bila itu benar-benar terjadi, maka langkah kaki Siliwangi akan makin luas. Ia membangun Jabar Sajati, dan sekaligus membagikan prestasinya bagi seluruh Indonesia.

Inikah takdir politik Dedi Mulyadi ke depan? Politik air mengalir...

Desember ini kita akan mulai menemukan jawabannya…


Mahya Lengka, Penulis Lepas Tinggal di Bandung

Baca Lainnya

Abah Abah
Abah Abah

Panceg Pasti Ajeg... Geus waktuna bral...

26 November 2017 11:51 Balas