Kamis, 25 Januari 2018 10:32

Inilah Massa Pendukung Dedi Mulyadi Dua DM

Reporter : Mahya Lengka
Ilustrasi
Ilustrasi [twitter]

Saat ini Kang Dedi bukan saja telah memiliki simpatisan dan pendukung, bahkan ia telah menjadi sosok yang memiliki pendukung fanatik dan pecinta. Ia telah dicintai oleh banyak orang. Para pecintanya bahkan rela berkorban dan berlelah-lelah untuknya. Misalnya, sekadar contoh, ada seorang dari Cianjur yang rela berjalan kaki (tanpa alas kaki) hanya untuk menemui Kang Dedi di Purwakarta. Berjalan kaki selama 4 hari 3 malam berhasil ia lakukan untuk menunjukkan kecintaaannya kepada Kang Dedi yang sudah ia anggap sebagai guru.

Jika dipetakan, basis suara ini Kang Dedi berasal dari berbagai simpul.

Pertama, simpul partai. Tujuhbelas kursi Golkar di DPRD Jabar (17 %) merupakan jumlah minimal yang dimiliki oleh Kang Dedi saat ini. Kinerja Kang Dedi selama memimpin Golkar selama ini bisa memperbesar dukungan masyarakat kepada partai, yang sekaligus menjadi basis suaranya. Dan, suara Kang Dedi lebih besar dari suara partainya sendiri.

Kedua, basis kalangan Muslim tradisionalis, yakni Nahlatul Ulama (NU). Kang Dedi adalah salah seorang pengurus NU di Purwakarta. Ia juga sangat dekat dengan Rois Am Suriah PBNU, KH Maruf Amin, yang dalam videonya telah jelas-jelas merekomendasikan Kang Dedi sebagai calon gubernur. Kang Dedi juga sangat akrab dengan Rois Am Jatman (Jaringan Ahli Thoriqoh al-Mutabarah al-Nahdhiyyah), Habib Luthfi bin Yahya, yang beberapa kali bersama dalam sejumlah acara.

Pada bulan Ramadhan yang lalu (2017), pimpinan pesantren Cipasung Tasikmalaya, KH Abun, juga mempromosikan Kang Dedi sebagai gubernur. Ini karena beliau sangat terkesan dengan kebijakan dan program Kang Dedi di Purwakarta yang sangat nge-NU pisan. Misalnya program membaca kitab kuning bagi semua siswa di semua sekolah di Purwakarta. Program mengenakan sarung dan peci setiap hari Jumat bagi semua siswa lelaki di sekolah dan para pegawai pemerintahan di Purwakarta, juga sangat kental ke-NU-annya. Salah seorang tokoh NU Jawa Barat, yakni KH Sofyan Yahya (Cigondewah Bandung), juga terang-terangan mengapresiasi Kang Dedi sebagai referensi Sunda berjalan.

Selain itu, secara kultural, gaya dan ritual, Kang Dedi juga sangat merepresentasikan NU. Dibandingkan sosok-sosok lain yang berusaha mengklaim ke-NU-an, Kang Dedi lebih nge-NU. Memang secara struktural partai PKB dan PPP mendukung pasangan yang lain. Namun secara kultural dan tradisional, kalangan Nahdliyyin lebih pas dengan sosok Dedi Mulyadi. Kemarin saja, Selasa 23 Januari 2018 malam, Kang Dedi diundang dan berbicara dalam acara Shalawatan di Cirebon bersama Habib Luthi bin Yahya, yang dihadiri oleh puluhan ribu kalangan Nahdhiyyin.

Secara personal, kalau ia berbicara di hadapan hadirin tentang suatu tema, baik budaya maupun agama, isi ceramah dan ulasannya khas gaya NU, yang spiritualistik dan tidak tekstualistik. Diksi dan paham keagamaan Kang Dedi juga merepresentasikan sosoknya sebagai nge-NU pisan.

Kesimpulannya, simpul kedua basis suara Kang Dedi adalah kalangan NU atau kalangan Muslim tradisionalis. Meskipun sebagian dari mereka memilih pasangan lain, namun mayoritas kalangan ini lebih condong kepada Kang Dedi.

Ketiga, kalangan masyarakat kecil. Mereka berasal dari desa-desa se-Jawa Barat, juga dari perkotaan. Di Jawa Barat ada sekitar 5960 desa. Dan Kang Dedi telah mengunjungi lebih dari 1000 desa. Belum ada sosok Jabar saat ini yang telah mengunjungi desa-desa Jabar sebanyak Kang Dedi, bahkan gubernur Jabar yang sudah sepuluh tahun memimpin Jabar sekalipun.

Kang Dedi berkunjung, menyapa, menemui, menanyakan persoalan, dan memberi solusi dan menolong masyarakat kecil, yang ada di desa-desa, di sudut-sudut kota, di gang-gang kecil, di pengadilan, di rumah sakit, di bandara, di penjara, dan lain sebagainya. Ciri khas Kang Dedi yang tidak dilakukan oleh figur-figur lain adalah kebiasannya sejak belasan tahun silam yang suka “nulung kanu butuh, nalang kanu susah, nganteur kanu sieun, nyaayngan kanu poekeun“. Mereka inilah yang menjadi para pecinta dan pendukung fanatik Kang Dedi.

Popularitas terbesar Kang Dedi selama ini ada di kalangan ketiga ini. Ungkapan “urang lembur jadi gubernur” adalah ungkapan jujur masyarakat bawah yang menaruh harapan kepada Ki Sunda. Dan ungkapan inilah yang telah  menyatukan hati orang-orang kecil untuk mendukung dan mengangkat Kang Dedi menjadi pemimpin mereka.

Keempat, simpul budaya. Kang Dedi adalah sosok multitalenta. Ia bukan saja pintar berceramah keagamaan, tetapi juga sangat menguasai tema-tema dan aplikasi nilai-nilai budaya. Ia bisa jadi ustadz yang berceramah keagamaan, juga bisa jadi dalang dan enternainer yang menghibur. Ia bukan saja sosok agamis, tetapi juga sosok budaya. Karenanya, di kalangan masyarakat budaya, ia sangat menonjol dibandingkan yang lainnya. Ia sudah menjadi sosok budayawan, yang berhasil menerjemahkan teori kebudayaan dalam aksi-aksi nyata dalam kebijakan dan program. Narasi budaya adalah andalan Kang Dedi dalam membangun kemanusiaan, dan budaya pula yang menjadi branding-nya. Oleh sebab itu, rasional dan realistis jika ia mendapatkan dukungan suara besar dari simpul ini. Bahkan kalangan budaya justru berharap kepadanya lebih besar, bagi majunya kebudayaan.

Kelima, simpul Jokowi. Gaya Kang Dedi yang suka apruk-aprukan (blusukan) itu telah membuatnya menjadi pemimpin kaum alit, mirip sosok Jokowi. Banyak pendukung Jokowi yang kesengsem dengan sosok Kang Dedi. Sekalipun para pendukung Jokowi tersebar kepada pasangan Hasanah dan Rindu, tetapi mereka juga banyak tersebar kepada sosok Dedi Mulyadi. Pendukung Jokowi tidak akan memilih pasangan Sudrajat-Syaikhu, tetapi mereka tersebar kepada tiga pasangan lainnya.

Keenam, simpul Prabowo. Sekalipun para simpatisan Prabowo banyak memilih pasangan Sudrajat-Syaikhu, tetapi sebagian dari mereka tersebar juga kepada pasangan Ridwan-Uu dan juga 2DM. Selain karena sosok Deddy Mizwar, sebagian simpatisan Prabowo juga memilih 2DM karena sosok Dedi Mulyadinya.

Dedi Mulyadi sosok yang unik. Ia bisa menyatukan para simpatisan dua tokoh yang secara politik bersebarangan. Ia bisa menyatukan sebagian simpatisan Jokowi dan Prabowo ke dalam dirinya. Apakah ini terjadi? Iya. Saya menemukan grup-grup relawan Kang Dedi, di mana para anggotanya berasal dari para simpatisan Jokowi dan Prabowo. Untuk tingkat politik nasional mereka berbeda pilihan figur, tetapi untuk sosok Jabar mereka sama-sama mendukung dan membela Dedi Mulyadi. Figur nasional berbeda, figur regional sama. 

Terakhir, jangan lupa, hanya pasangan 2DM yang didukung oleh sosok SBY yang di Jawa Barat masih kuat. Jika faktor Jokowi (Mega) dan Prabowo tersebar kepada tiga pasang calon, maka faktor SBY akan solid hanya bergerak untuk mendukung pasangan Deddy-Dedi. Ini karena Deddy Mizwar adalah kader partai Demokrat dan diusung oleh partai ini.

Itulah beberapa simpul kekuatan yang dimiliki oleh Kang Dedi secara khusus, dan 2DM secara umum. Kita lihat ke depan seberapa besar dan efektif simpul kekuatan ini dikapitalisasi oleh pasangan Deddy-Dedi untuk kemenangannya. Untuk Sajajar Menata Jabar.

Baca Lainnya