Jumat, 30 Maret 2018 13:14

Indonesia 2030 dan Logika tentang Waktu

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Limawaktu]

Penulis: A.M.Safwan - Koordinator Jaringan Aktifis Filsafat Islam (JAKFI) Nusantara

Dalam ajaran agama, sejauh yang saya ketahui, penetapan waktu tertentu tentang kejadian tertentu tidak disebutkan waktunya secara khusus. Misalnya kiamat 2014, 2015 atau 2020. Bahkan dalam satu riwayat ditegaskan tentang tidak bolehnya meramalkan waktu tentang hari kiamat, selain hanya tanda-tanda yang akan menyertai hari kiamat.

Banyak riwayat yang kita ketahui tentang tanda-tanda akhir zaman tetapi bukan seperti ramalan suku Maya tentang hari kiamat dan berbagai ahli yang juga ternyata tidak terbukti.

Dalam ajaran agama begitu rupa dinilai dengan hukum sejarah bukan dengan waktu, karena tentu waktu di sisi Allah SWT adalah tidak dalam arti spasio temporal, jarak, saintifik. Ada prioritas akal atas keterdahuluan sesuatu tetapi bukan dengan waktu, seperti ketika tangan kita menggerakan spidol, secara waktu sama, tetapi tentu tangan adalah lebih awal bergerak (hukum sebab - akibat) baru spidol itu bergerak.

Oleh karena itu dalam filsafat, penetapan waktu bukan sesuatu yang logis dalam menganalisis sebuah nilai atau cita-cita kecuali semua bersama hukum sebab akibat, kesabaran. Ada aspek kuantitatif dalam waktu dan juga ada kualitatif secara persepsi. Secara ilmiah waktu bukan variabel yang berdiri sendiri ada variabel lain yaitu jarak, kecepatan dan percepatan.

Dengan demikian, prediksi indonesia bubar tentu bisa dipahami (kapan pun itu bisa terjadi tergantung variabelnya), tetapi meramalkan bubar 2030 adalah sesuatu yang tidak logis dan juga tidak ilmiah.

Indonesia bisa bubar dengan berbagai syarat, termasuk syarat langit (metafisika) selain syarat ilmiah. Jadi prediksi bisa bubar tentu tergantung data ilmiah yang digunakan dan bagaimana interpretasi data yang rasional.

Oleh karena itu prediksi Indonesia bubar, boleh saja, tetapi juga begitu banyak lagi yang secara ilmiah menunjukkan probabilitas matematika bahwa Indonesia negara yang justeru semakin hari semakin kuat.

Namun, demikian, tentu kita perlu terbuka kepada setiap prediksi. Tetapi agama juga mengajarkan kepada kita untuk terus optimis menyambut masa depan bagaimana pun sulitnya hidup kita dengan mengacu kepada segenap potensi kekuatan dan ancaman dilihat sebagai tantangan.

Apa yang substansi dari prediksi ini, buat saya tidak ada yang istimewa, menjadi besar karena arus politik saja dan karena kita telah jauh masuk dalam dikotomi politik partisan yang distimulasi oleh lovers dan haters.

Memang politik kekuasaan seringkali merancukan nalar kita.

Baca Lainnya