Kamis, 3 Mei 2018 12:45

Independensi Wartawan dan Media

Reporter : Jumadi Kusuma
Wartawan senior Farid Gaban bersama Dandhy Dwi Laksono.
Wartawan senior Farid Gaban bersama Dandhy Dwi Laksono. [Limawaktu]

Penulis: Dandhy Dwi Laksono, Editorial Consultant First Media News

Press Freedom Day. Selama media masih hidup bergantung pada iklan, selama itu pula kebebasan dan independensi ruang redaksinya selalu dalam ujian. Itu kesimpulan Farid Gaban setelah 30 tahun lebih menjadi Wartawan di setidaknya tujuh media.

Tak perlu mendebat Gaban untuk kesimpulan ini. Kalau ada pemilik media atau Pemimpin Redaksi yang bersaksi sebaliknya, silakan ajukan diri. Terutama media-media yang pernah disiram iklan pabrik semen, properti, atau Meikarta.

Ditambah urusan afiliasi politik, genaplah sudah media menjadi faktor korosif bagi demokrasi. Alias sumber karat. Alih-alih menjadi pilar keempat.

Karena itu bagi alumni peliput perang Bosnia (1992) ini, kebebasan atau independensi redaksi harus dimulai dari model bisnisnya. Media yang ideal adalah media yang dibiayai oleh komunitas pembacanya atau crowd funding. Kesimpulan yang hingga kini diyakini BBC di Inggris, NHK di Jepang, atau PBS di Amerika yang hidup dari iuran warga dalam skala negara.

Dalam skala kecil, media juga bisa hidup dari patungan, uang langganan konten, atau hasil dari usaha lain yang tidak menimbulkan konflik kepentingan. Di situlah modal independensi dimulai.

Jika tak sanggup, independensi bisa ditumbuhkan dari diri sendiri dengan model yang sama. Ia mendorong jurnalis memiliki keterampilan atau life skill lain yang memungkinkannya mendapatkan sumber-sumber nafkah alternatif, dan tidak menggantungkan sepenuhnya pada jurnalisme.

Ini adalah pemikiran hasil adaptasinya melihat konteks Indonesia, di mana wartawan (terutama di daerah) tak beranjak sejahtera, sementara independensi profesi dan medianya rentan tergadai.

Maka pada akhirnya mantan jurnalis Tempo, Republika, dan balik lagi ke Tempo ini, percaya bahwa kegiatan jurnalistik yang ideal adalah ekspresi intelektual, bukan (semata) pekerjaan. Ia adalah hobi, juga kesenangan dan panggilan. Karena itu, berjurnalistik bisa dilakukan oleh siapa saja, asal paham ilmu dan metodologinya. Baginya, kegiatan jurnalistik tak akan selalu ideal jika dicampur dengan kegiatan mencari nafkah.

Dan seperti biasa, Gaban berulangkali berusaha memulainya dari dirinya sendiri. Mimpi, jatuh, bangun, gagal, dan mimpi lagi adalah sejarah alumni Planologi ITB tak lulus ini.

Kali ini ia mencoba budidaya terintegrasi di kampung halamannya di Wonosobo. Ada jangkrik yang tepungnya sedang menjadi komoditas primadona dunia. Memang tak semahal racun kalajengking. Tapi setidaknya ini lebih realistis.

Ada ayam kampung dengan pakan organik yang membuat kandangnya tak berbau sehingga tak diprotes tetangga. Cocok untuk konsep peternakan urban.

Ada pula kolam ikan, atau tanaman-tanaman eksperimen seperti kapas dan stevia yang daunnya semanis gula, tapi nol kalori.

Ini memang khas Farid Gaban. Terus bereksperimen dan mencoba hal-hal baru, meski bagi orang lain barangkali terlihat tidak terstruktur dan sistematis. Sama spontannya saat ia memutuskan keliling Indonesia tahun 2009 dengan motor bekas, setelah semula sebuah proyek keliling Indonesia dengan kapal Phinisi yang disponsori, gagal total.

Tentu kini dia masih mengurusi media. Ia masih tercatat sebagai Pemimpin Redaksi Geo Times yang kini berusaha rebound dengan merekrut penulis-penulis muda bergaji lumayan.

Ada kawan-kawan yang memperjuangkan kebebasan pers melalui jalur-jalur struktural seperti mendorong lahirnya kebijakan, terlibat dalam politik, mengorganisasi diri, atau menjadi anggota Dewan Pers.

Tapi sebagian wartawan seperti Mas Gaban percaya, bahwa independensi bukan ihwal rangkaian aturan yang melindungi profesi wartawan, tapi pertama-tama, apakah wartawannya memang mau menjadi independen.

Selamat Hari Kebebasan Pers Dunia. Happy World Press Freedom Day 3 Mei.

Baca Lainnya