Jumat, 20 April 2018 20:07

"Ganti Presiden"

Reporter : Jumadi Kusuma
Illustrasi
Illustrasi [Limawaktu]

Penulis: Dr. Muhsin Labib, dosen STFI Sadra Jakarta

Demokrasi adalah konsep bermasyarakat yang berbasis pada etika. Tapi nyatanya, banyak orang yang hanya memahaminya sebagai hak untuk menentukan pilihan politik sembari mengabaikan etikanya.

Ganti Presiden” yang disebarkan saat presiden aktual sedang melaksanakan tugas sesuai mandat yang diberikan kepadanya adalah cermin perlawanan terhadap etika berdemokrasi.

“Ganti Presiden” adalah kampanye negatif yang tak hanya bisa dianggap curi start kampanye namun juga merupakan tindakan destruktif yang mengganggu fokus pihak yang jadi objek.

Secara psikologis, “Ganti Presiden” menguak ke-kebelet-an mengambil kekuasaan dengan cara memprovokasi dan membodohi publik seolah tak punya hak untuk menilai kinerja saat momen konstestasi politik belum dimulai.

Hasil survei dan analisa pengamat dengan semua keberpihakan nyata dan terselubung takkan mampu mengubah yang baik jadi buruk dan sebaliknya, apalagi spanduk dan stiker.

Pemilu adalah gawe rakyat untuk menentukan pilihan politik, bukan seseorang atau partai politik. Elite perlu menenangkan publik, bukan malah menciptakan kegaduhan dengan pernyataan-pernyataan tak bijak yang justru membuat rakyat makin kesal.

Serahkan kepada penguasa sejati negeri ini, rakyat. Siapapun yang terpilih oleh suara terbanyak, dialah presiden yang harus diterima oleh pemilih dan yang tak memilihnya.

Baca Lainnya