Kamis, 14 Desember 2017 17:20

Figur Populis Religius Diminati Warga Jawa Barat

Ditulis Oleh Jumadi Kusuma
Arlan Sidha, S.Ip., M.A. Pengamat Politik Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Cimahi.
Arlan Sidha, S.Ip., M.A. Pengamat Politik Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Figur populis menjadi penentu dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dibeberapa daerah, popularitas seseorang bisa dengan mudah menaikkan elektabilitas, artinya figur tersebut sudah dikenal oleh masyarakat sehingga penyampaian pesan untuk konstituen sangat mudah diterima, demikian pernyataan Arlan Sidha, S.Ip., M.A. Pengamat Politik Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Cimahi saat dihubungi Limawaktu.id belum lama ini.

"Apalagi di Jawa Barat masyarakat lebih suka dengan figur populis, ini bisa kita lihat dari dua kali Pilkada tahun 2008 dan 2013, kecenderungan masyarakat memilih Dede Yusuf dan Deddy Mizwar. Meskipun seperti itu figur populis tidak selalu berbuah manis dalam Pilkada, ada juga figur populis yang kemudian kalah", kata Arlan yang juga peneliti pada Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) UNPAD Bandung ini.

Selain figur populis yang mendapatkan tempat dihati pemilih di Jawa Barat adalah figur yang religius, "Figur religius sangat penting terlebih wilayah Jawa Barat yang banyak dihuni oleh pesantren dan menjadi penentu kemana pemilih akan berlabuh".

Karenanya kolaborasi menjadi hal yang penting dengan memainkan figur pada Pilkada Jawa Barat,"Salah satunya menggabungkan dua figur yang populis dan religius. Yang religius akan menarik suara basis pesantren terutama di wilayah selatan dan beberapa wilayah lain. Sementara figur populis akan menarik pemilih pemula untuk mendulang suara"

Terkait dimainkannya Isu SARA (Suku, Agama, Ras Antar Golongan) pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2018, Arlan menjelaskan bahwa isu SARA muncul tidak hanya pada figur religius atau populis saja, "Kemunculannya bisa jadi karena kurang  pemahanan masyarakat mengenai isu-isu yang beredar di Jawa Barat, terlebih kasus SARA dianggap berhasil untuk menghancurkan elektabilitas lawan".

Diketahui isu SARA dimainkan pada Pilgub DKI Jakarta dan sangat mungkin terjadi pada Pilgub Jawa Barat 2018, "Itu akan membuat kondusifitas Jawa Barat terganggu, kita bisa lawan dengan cara melaksanakan komitmen bersama masyarakat dan parpol untuk tidak mereduksi isu SARA menjadi bagian dari Pilkada, selain itu informasi yang tidak benar harus dilawan dengan informasi yang valid dan saya yakin ruang untuk memainkan isu SARA semakin sempit", pungkasnya. (jk)