Rabu, 23 Mei 2018 16:30

Deradikalisasi Terorisme dengan Strategi Kebudayaan

Reporter : Jumadi Kusuma
Pengajian kultural dengan sajian wayang golek di Masjid Nurul Huda, Ledeng Kota Bandung.
Pengajian kultural dengan sajian wayang golek di Masjid Nurul Huda, Ledeng Kota Bandung. [Istimewa]

Penulis: Ust. Syamsuddin Baharuddin, Ketua Tanfidziyah PP IJABI

majelis kajian bulan Ramadhan di Aula Muthahhari, Kiaracondong Kota Bandung menghadirkan dua ‘Guru Besar’ di bidangnya masing-masing. Meski terdengar ‘berat’, topik tentang “Strategi Kebudayaan dalam Proses deradikalisasi” terasa lebih santai dalam ulasan Tisna Sanjaya, Ph.D, Dosen Seni Rupa ITB, seniman dan budayawan Sunda yang hadir sebagai pembicara tamu dan KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc sebagai 'tuan rumah'.

Dalam pengantarnya, Ustadz Jalal membahas fenomena terpisahnya agama dari budaya. Menurutnya, sebuah agama tidak lahir atau datang dalam ruang kosong. Dahulu agama datang ke suatu tempat, diserap dan diberi warna oleh budaya setempat. Agama bukan hanya menjadi ciri budaya setempat, agama juga menjadi identitas pemeluknya.

Penanda agama adalah penanda budaya juga. Budaya membuat kita memahami agama dengan pandangan yang berbeda-beda. Cara Muslim di Persia (Iran) menjalani bulan suci Ramadhan jauh berbeda dengan tradisi Muslim Indonesia. Umat Islam di semua negara merayakan Idul Fitri setelah menunaikan ibadah di bulan suci Ramadhan. Tapi, hanya Muslim Indonesia yang punya tradisi berlebaran. Idul Fitri itu ajaran Islam. Lebaran (beserta mudik) itu tradisi Islam (di Indonesia).

Pada konteks ini terjadilah akulturasi, atau inkulturasi. Agama yang masuk dalam suatu budaya diklaim sebagai bagian dari budaya itu. Karena itu kita memiliki Islam Persia, Islam Maroko, bahkan Islam Sunda, Islam Makassar, dan lain-lain. Islam bergantung pada budaya dimana ia berkembang.

Bersamaan dengan itu terjadi pula apa yang disebut teritorialisasi. Agama yang masuk ke suatu daerah kemudian menjadi penanda daerah tersebut. Saat bertemu orang Iran, kita menduga dia Syiah. Bertemu orang Saudi, kita menyangka dia Wahabi. Agama yang diserap oleh budaya setempat kemudian menjadi ciri dan identitas daerah tersebut.

Namun demikian, ada dua hal yang mengoyak percampuran agama dan budaya tersebut. Satu, globalisasi. Dalam globalisasi, seluruh budaya bercampur dan berinteraksi. Positifnya, masing-masing saling menyerap sisi positif dari budaya lain. Namun, sisi negatifnya, orang mengalami krisis identitas, yang mengantarkannya untuk mencari identitas baru. Kedua, media sosial. Keberadaan media sosial telah mengoyak hubungan antara agama dengan budaya.

Terkoyaknya hubungan antara agama dan budaya, mengakibatkan munculnya kelompok fundamentalisme ekstrim, yang tak lagi mau terikat dengan budaya setempat. Kelompok ini menggabungkan diri dalam gerakan transnasional. Akibatnya, agama tidak lagi dimiliki oleh budaya dan teritori tertentu, terjadi proses universalisasi yang kemudian mereka sebut proses ‘pemurnian agama’. Dan yang mereka sebut ‘pemurnian agama’ adalah membersihkan agama dari unsur budaya setempat, dalam segala hal.

OAkibatnya terjadi krisis identitas, orang melepaskan dirinya dari budaya setempat, dan membentuk sebuah imagine community, komunitas bayangan/khayalan yang ada dalam bayangan masing-masing. Komunitas yang segala sesuatunya serba seragam. Yang ada hanya identitas sebagai Muslim. Tak ada lagi Muslim Indonesia, Muslim Sunda, Muslim Makassar, dan lain sebagainya.

Identitas sebagai Muslim yang diseragamkan itu menjadi standar, yang jika tidak sesuai dengan standar itu, tidak disebut Muslim. Lalu muncullah gerakan takfiri, yang menganggap semua selain dirinya adalah salah (kafir). Bunga di seluruh dunia harus seragam. Tak boleh ada aneka warna dan jenis bunga. Jika ia mawar, maka seluruh dunia harus menjadi mawar. Tak ada hak bunga tulip untuk tumbuh. Mereka tak menikmati keragaman.

Globalisasi mengakibatkan penyeragaman dan standarisasi, dalam 3 F (kata Nisbett), yaitu: Food (makanan), Fashion (mode), dan Fun (Hiburan). Ustadz Jalal menambahkan satu F lagi: Faith (iman). Lahirlah fundamentalisme. Orang yang terpisah dari budayanya mengalami alienasi, dan berusaha mencari tempat berhimpun dalam sesuatu yang abstrak, imagine community.

Dan imagine community itu sekarang bernama “khilafah”. Mereka yang bergabung dalam komunitas itu merasa dirinya bagian dari “khilafah”, bukan bagian dari budaya Indonesia, bukan bagian dari budaya setempat. Mereka tercerabut dari akarnya.

Pada bagian berikutnya, Kang Tisna Sanjaya, mengawali ulasannya dengan memperkenalkan diri sebagai Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Huda di lingkungan tempat tinggalnya. Karena itu ia melakukan pendekatan yang berbeda, khas seorang seniman. Ia melakukan revitalisasi tradisi.

Kang Tisna mengajak warga untuk bersama-sama memperbaiki jalan menuju masjid, memasang pot tanaman dan lampu tambahan di luar masjid, sehingga masjid terlihat indah, terang bercahaya di saat malam hari. Di sebelah masjid, ia membuat kantor untuk DKM, dengan suasana yang cerah dan terbuka. Masjid dicat agar terlihat bersih dan segar. Dinding luarnya yang semula warnanya monoton, dibuat lukisan/mural, yang dikerjakan oleh para seniman mural.

Kang Tisna menyebut mereka, para ustadz muralis. Dinding masjid yang telah dilukis para ustadz muralis menarik perhatian anak muda, termasuk mereka yang mau swafoto.

Yang tak kalah uniknya, di masjid dipasang wifi. DKM punya akun medsos yang mempublikasikan setiap kegiatan di masjid itu. Masjid Nurul Huda berubah menjadi masjid jaman now. Anak-anak muda kumpul di masjid. Pada waktu shalat, tentu saja mereka ikutan shalat.

Para muballigh yang diundang memberikan ceramah di masjid itu, harus menulis naskah ceramahnya lebih dulu, meskipun pendek. Bukan untuk disensor, tapi bagian dari mentradisikan budaya literasi. Kumpulan naskah ceramah nantinya akan diterbitkan menjadi sebuah buku.

Dakwah tak hanya disampaikan dari mimbar masjid. Majlis pengajian juga ditampilkan secara kultural dengan sajian wayang di dalam masjid. Pesan-pesan Islam disampaikan melalui pementasan wayang yang diikuti bukan hanya oleh jamaah masjid tetapi juga para netizen karena disiarkan live via facebook DKM. Setiap kegiatan juga dibuatkan poster yang keren, dan menarik perhatian.

Masjid kembali meriah dan ramai oleh berbagai aktifitas, bukan hanya untuk shalat lima waktu. Tua muda tertarik berkumpul ke masjid. Beragam kegiatan di masjid menarik perhatian para donator untuk ikut partisipasi.

Masjid ‘hidup’ kembali dengan partisipasi warga dalam suasana guyub. Dalam suasana seperti itu, paham radikal sulit berkembang. Ada banyak cara mencegah berkembangnya paham radikal. Pendekatan kebudayaan dengan kearifan lokalnya bisa menjadi salah satu alternatif.

Baca Lainnya

Syamsuddin Baharuddin
Syamsuddin Baharuddin

Sebenarnya ini bukan tulisan saya. Tepatnya, saya hanya merangkum apa yang disampaikan KH DR Jalaluddin Rakhmat dan DR Tisna Sanjaya dalam Kajian Bulan Ramadhan IJABI di Aula Muthahhari. Tulisan di atas lebih tepat disebut citizen report yang saya tuliskan. Terimakasih sudah memuat catatan singkat tersebut.

23 Mei 2018 16:48 Balas

Topik Populer

Berita Populer