Rabu, 21 Februari 2018 16:11

Carut Marut Pendidikan di Indonesia

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Penulis: Linda Latumahina, Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya

Ada tiga artikel bagus yang ditulis oleh Elizabeth Pisani tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Pisani adalah jurnalis Reuters yang banyak menulis tentang Indonesia. Salah satu bukunya, 'Indonesia Etc', adalah buku bagus yang mendapat banyak pengakuan internasional.

Masa depan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Penjajah Belanda konon membiarkan rakyat Indonesia tetap bodoh, supaya lebih mudah dikendalikan. Orang yang bodoh dan suka ribut antar sesama tidak akan sempat memikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki nasib atau menjadi lebih maju.

Dalam tulisannya, Pisani menyoroti prestasi anak-anak Indonesia dalam tes PISA. PISA adalah tes yang diadakan OECD untuk menguji kemampuan anak-anak usia 15 tahun di puluhan negara dalam bidang sains (science), matematika (math) dan membaca (reading). Tes ini diadakan tiga tahun sekali. Pada tes kedua terakhir pada tahun 2012 dan 2015, Indonesia mendapat peringkat 60-an dari 70 negara di ketiga bidang yang diujikan. Jauh di bawah negara-negara tetangga di ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, apalagi Singapura.

Contohnya: hasil tes 2015 menunjukkan, 55% anak Indonesia punya kemampuan sangat buruk dalam tes membaca. Semua soal tes PISA sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, reading comprehension mereka ternyata sangat rendah. Mereka bisa membaca, namun mereka tidak mampu untuk menemukan ide utama dalam sebuah paragraf, memahami keterkaitan antar kalimat, maupun menemukan informasi yang tepat dalam paragraf.

Hasil tes anak Indonesia yang jauh di bawah negara-negara tetangga di ASEAN ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Konon ini juga menunjukkan bahwa anak Indonesia tidak punya basic skills yang kelak akan dibutuhkan di dunia kerja, seperti critical thinking atau problem solving capability. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi Indonesia di era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), dimana tenaga kerja bisa bekerja bebas lintas negara.

Sebenarnya memang aneh, ketika banyak mendengar keluhan para orangtua yang mengomel beban studi anak-anaknya di sekolah amat berat. PR nya banyak, tugasnya susah-susah. Soal-soal untuk anak SD kadang terlalu 'ajaib' saking susahnya. Anak SD aja sudah les mata pelajaran.

Lantas mengapa anak Indonesia hasil tesnya jauh dibawah negara-negara tetangga di ASEAN? Sudah nggak pintar, budi pekertinya tidak dapat dibanggakan pula. Lalu apa gunanya segala beban studi yang berat itu?

Pisani mencoba menganalisis, mengapa kualitas pendidikan Indonesia sangat rendah. Berikut beberapa analisisnya:

1. Dana pendidikan di Indonesia sebenarnya sangat tinggi dianggarkan di APBN. Orangtua juga keluar biaya besar untuk pendidikan. Tapi dana itu entah 'bocor' ke mana, karena kualitas pendidikan biasa saja. Universitas-universitas terbaik di Indonesia pun tidak bisa masuk top 100 Asian Universities.

2. Kualitas guru di Indonesia masih sangat rendah. Salah satu sebabnya, banyak orang sebenarnya tidak punya passion mengajar, namun menjadi guru hanya karena ingin menjadi PNS atau butuh pekerjaan. Pada Zaman Soeharto, guru adalah birokrat dan bukan pendidik, dan itu terbawa sampai sekarang.

3. Sudah kualitasnya rendah, banyak guru dan kepsek yang suka 'membolos', khususnya di daerah-daerah terpencil. Ada yang tidak muncul di sekolah hingga berbulan-bulan! Padahal gaji jalan terus. Murid-murid jadi terbengkalai. Kalaupun gurunya datang ke sekolah, murid-murid hanya diberi tugas mengerjakan LKS karena gurunya malas mengajar.

4. Di Indonesia, tidak ada sistem yang memberi reward bagi guru yang kreatif dalam mengajar, mendorong siswanya untuk maju dan sanggup berpikir kritis, dan sebagainya. Sistem kepangkatan masih diutamakan pada lamanya bekerja atau senioritas, dan bukan pada kemampuan sang guru.

5. Sejak era otonomi daerah, kualitas pendidikan malah makin hancur. Kepala sekolah kini dipilih oleh kepala daerah dengan sistem balas jasa. Kejadian nyata di suatu daerah, ada kepsek yang dipecat karena kebocoran uang sekolah dan berjudi. Ia kemudian bisa diangkat kembali jadi kepsek, hanya karena ia menjadi timses kepala daerah yang menang dalam pilkada. Para kepsek juga kini rela melakukan apa saja demi menyenangkan kepala daerahnya.

6. Di Indonesia, segala sesuatu bisa dibeli, termasuk ijazah. Orang bersekolah atau kuliah untuk dapat ijazah, bukan untuk belajar sesuatu. Karena itu kualitas jadi tidak penting, yang penting punya gelarnya.

7. Berdasarkan penelitian, di negara-negara lain tutorial atau les selalu berhasil membuat anak lebih pintar, namun hal itu tidak berlaku di Indonesia. Mungkin karena tipe les di Indonesia hanya mengajarkan tips atau trik cara mengerjakan tes atau ujian, dan bukan mengajari anak untuk benar-benar bisa memecahkan masalah.

8. Kurikulum 2013 yang sempat akan diberlakukan bahkan meniadakan mata pelajaran sains untuk memberikan waktu lebih bagi mata pelajaran agama, PKN dan matematika. Bayangkan apa jadinya kalau sains ditiadakan.

Jangan memandang tulisan Pisani ini sebagai bentuk hinaan walaupun judulnya bikin kuping panas, namun pandanglah sebagai kritik yang membangun. Entah bagaimana caranya untuk bisa menciptakan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Masalahnya terlalu kompleks.