Selasa, 21 November 2017 14:04

Banjir Jadi Derita Belasan Tahun Warga Dayeuhkolot

Fey Sapta, warga Kampung Babakan Leuwi Bandung, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, di lokasi banjir di Kampung halamannya
Fey Sapta, warga Kampung Babakan Leuwi Bandung, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, di lokasi banjir di Kampung halamannya [limawaktu]

Limawaktu.id, - Derita warga Dayeuhkolot Kabupaten Bandung dan sekitarnya menjadi potret buram masalah lingkungan. Betapa tidak, sudah belasan tahun, mereka menderita banjir yang diakibatkan luapan Sungai Citarum.

Menurut Fey Sapta (31) warga Kampung Babakan Leuwi Bandung, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, banjir di Kampung halamannya sudah terjadi sejak 12 tahun lalu, penderitaan Panjang yang tak ada habisnya, karena setiap tahun kampung halamannya mengalami banjir.

"Selama 12 tahun derita ini dialamai warga kami, dari sekian tahun mereka-mereka katanya menanggulangi banjir dan melakukan perbaikan, tapi banjirnya makin sini makin tinggi, harusnya kalau ditanggulangi minimal ngurangi dari satu meter menjadi 50 centimeter," kata Fey saat ditemui di Babakan Leuwi Bandung, Selasa (21/11/2017).

Menurutnya, apabila benar ditangulangi, maka tidak akan dibiarkan banjir, namun kali ini banjir bertambah tinggi. "Banjir ya tetap segitu-gitu juga, yang menjadi pertanyaan kenapa banjir ini seolah dibiarkan semakin tinggi," ungkap Fey yang warga Dayeuhkolot, yang juga owner Kopilur di Jalan Braga, Kota Bandung.

Dia merinci, banjir ini karena rusaknya alam yang disebabkan Gunung digunduli, Pohon-pohon ditebang, penyerapan air berkurang karena tanah banyak dibeton dan dijadikan pemukiman, sampah dibuang kesungai, pabrik plastik semakin banyak, sungai makin dangkal diakibatkan erosi, lebar sungai menyempit, Air sungai dikotori oleh limbah pabrik dan limbah rumah tangga.

Tak hanya itu, Sungai Citarum diluruskan, Heritage Belanda dijaga, tapi Heritage Tuhan tidak dijaga, Banyak badan sosial yang berkepentingan, Banyak orang ingin menyelamatkan negaranya, padahal diri dan keluarganya belum selamat dan banyak lagi.

Dia melanjutkan, Kalaulah ingin semua ini sesuai harapan kita, ayo mulai dari diri kita benahi rumah kita masing-masing, keluarga kita masing-masing, setelah semua itu terlaksana barulah kita berbagi terhadap orang lain. “Bayangkan jika pemikiran semua orang begitu, maka negara ini akan merdeka seratus persen," pungkasnya. (lie)