Selasa, 3 April 2018 12:23

Azan, Konde dan Cadar, Menolak Ekstrimisme dalam Agama dan Kebangsaan

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Limawaktu]

Penulis: DR. Muhsin Labib, M.A. - Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, Jakarta

Cinta NKRI tak harus meremehkan Syariat. Cinta konde tak mesti menjelekkan cadar. Ekstremisme dalam agama dan nasionalisme harus ditolak.

Membandingkan atau menabrakkan keyakinan dengan kebangsaan adalah ke-lebay-an.

Mengunggulkan kebangsaan seraya meremehkan keyakinan yang dianut bangsa itu sendiri adalah kesemrawutan intelektual.

Membenturkan cinta agama dengan cinta bangsa adalah cermin ketakpahaman tentang keduanya.

Membanggakan kebangsaan tapi meremehkan agama yang dianut oleh individu-individu bangsa (yang merupakan komponen kebangsaan) adalah paradoks.

Perlu mewaspadai fasisme dan chauvinisme berbungkus nasionalisme.

Sulit menafsirkan pernyataan yang membenturkan kebangsaan dengan agama di tahun politik sebagai spontanitas.

Jangan nistakan azan hanya karena kadang dikumandangkan oleh pelaku kezaliman. Kezaliman selamanya buruk. Azan selamanya baik.

Kalau ada gerombolan menolak kebangsaan dengan dalih syariat, jangan malah mengiyakannya dengan membenturkan keduanya.

Kalau gerombolan intoleran meremehkan kebangsaan dengan dalih syariat, buktikan keduanya tak bertentangan, bukan malah membenturkannya.

Kalau kaum ekstremis menganggap cinta Tanah Air sebagai syirik dengan dalih agama, buktikan cinta Tanah Air adalah bagian dari agama, bukan malah meremehkannya.

Kalau kita menolak pemahaman ekstrem tentang agama, kita juga menolak pemahaman ekstrem tentang kebangsaan.

Merendahkan agama apapun tidak bisa dibedaki dengan justifikasi hanya karena diungkap dalam puisi.

Ketakmampuan membedakan dua subjek (azan dan kezaliman) dalam sebuah peristiwa mengakibatkan peleburan subjek dalam satu penilaian.

Azan yang dikumandangkan orang zalim selamanya baik. Kezaliman yang dilakukan oleh pengumandang azan selamanya buruk.

Untuk jadi toleran tak harus jadi ambivalen dan permisif. Menolak peremehan azan justru mencerminkan sikap logis.

Agama menumbuhkan cinta kebangsaan. Kebangsaan memperkuat cinta agama.

Baca Lainnya