Penulis: A.M. Safwan - Koordinator Jaringan Aktivis Filsafat Islam (JAKFI) Nusantara
Saya seringkali takjub jika membaca dan memahami makna azan yang dijelaskan oleh Imam Sajjad cucu Nabi Muhammad SAW.
Saya seringkali terharu mendengar SUARA AZAN dari negeri Melayu, Persia dan Arab, dengan alunan yang indah serta penghayatan yang dalam dengan bentuk bahasa ibu mereka berpadu dengan bahasa /lantunan AZAN yang berbahasa Arab.
Beberapa kali saya mengumandangkan azan dengan suara pas-pasan alias sama sekali tidak merdu, tapi jiwa ini masih bisa terharu.
Makna dan penghayatan masih bisa saya rasakan sekalipun saya yang mengumandangkan azan dengan suara yang sama sekali tidak merdu. Saya memilih tidak menjadi muazzin (Orang yang mengumandangkan azan) karena suara saya tidak merdu. Dalam azan kita membaca teksnya bukan menjelaskan maknanya.
Kemerduan suara muazzin saat azan tentu bagus, tetapi tanpa makna dan penghayatan maka kemerduaan hanya dinikmati dan diperlukan agar tidak mengganggu orang.
Dengan demikian, kemerduaan membantu dalam transformasi makna azan. Makna sejatinya tidak bergantung apakah suaranya merdu atau tidak, penghayatan dipengaruhi oleh konsep.
Saya membaca bagian dari puisi Ibu Sukmawati yang berkata:
"Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan azan mu"
Ibu Sukma berkata ini adalah suara yang jujur dari beliau dan berkata kalau mau merdu sebaiknya yang baca azan yang suaranya merdu.
Saya menerima kenyataan bahwa yang membaca azan sebaiknya suaranya merdu sebagaimana yang diharapkan Ibu Sukma, sekalipun Ibu Sukma dengan jujur berkata tak tahu Syariat Islam.
Syariat Islam tentang azan, yaitu:
1. Dianjurkan dikumandangkan sebelum salat baik salat sendiri maupun jamaah.
2. Azan sebagai petunjuk masuknya waktu salat biasanya melalui masjid dan azan yang dikumandangkan bagi orang yang sudah mau melaksanakan salat sendiri
3. Tidak ada keharusan yang membaca azan harus merdu atau tidak yang prinsip pembacaannya benar dan sesuai teksnya serta pesannya sampai.
Dengan demikian, secara syariat, alunan merdu atau tidaknya azan dalam syariat tidak menjadi syarat sahnya azan.
Lalu mengapa Ibu Sukma membandingkan suara kidung Ibu Indonesia yang lebih merdu dari alunan azan ? Mungkin terbatas pada kemerduannya?
Perbandingan yang tidak pas tentunya karena kidung Ibu Indonesia dengan kemerduannya dan MAKNA Ibu Sukma sedang azan dengan SUARA.
Di sini, tampak ketidakadilan dalam perbandingan, dan ruang sinisme akan ditangkap dalam MAKNA.
Ibu Sukma menurut saya tidak hanya bermain dengan BAHASA merdu juga dengan MAKNA.
MAKNA akan bersentuhan dengan IMAJINASI dan cenderung akan liar.
Buat saya Ibu Sukma dengan puisinya sedang membawa IMAJINASI Agama dengan kerangka pernyataannya sendiri bahwa beliau tidak tahu Syariat Islam, pada waktu yang sama melakukan perbandingan MAKNA kidung Ibu Indonesia dengan alunan SUARA Azan yang tidak merdu.
Dengan demikian, tetap ada bahasa KEKERASAN SIMBOL dalam puisi Ibu Sukma dalam imajinasi keagamaan. Memang puisi seringkali bersembunyi dibalik KATA dan MAKNA.
Puisi itu patut dikritik keras karena mengandung kekerasan simbolik, yang berpotensi memicu konflik.
Tetapi tidak sampai harus disebut menista agama, cukup pihak yang berkepentingan bertabayyun bahwa bahasa itu mengandung kekerasan simbolik yang karenanya sebaiknya dihindari.
Sebagai karya sastra, pasti kesusasteraan punya metode pemaknaan yang harus kita hormati. Tetapi ilmu sastra juga patut mempertimbangkan ilmu maslahat dalam kehidupan bersama (maqashid syariah).
Perlu menghindari ambiguitas BAHASA dan MAKNA semaksimal mungkin.
Karena AGAMA juga mengandung banyak puisi di dalamnya yang tercermin dalam RASA seperti puisi Rumi dan Iqbal yang sekalipun orang yang mendengarnya tak tahu syariat Islam dan yang membacakannya tidak dengan suara merdu (BAHASA), puisi-puisi Rumi dan Iqbal tetap dapat dinikmati karena mengandung MAKNA dan penghayatan tinggi.
Saya meyakini bahwa Ibu Sukma tidak bermaksud jahat atau buruk dalam puisi, tetapi seringkali kejahatan dan keburukan muncul tidak dimulai dari niat, tetapi dari cara atau metode yang menjadi sistem hubungan antara MAKNA DAN BAHASA, dalam bahasa pengkaji Ibn 'Arabi dan Rumi sebagai ilmu takwil.
Bagi saya Ibu Sukma tidak menista agama, tetapi mungkin Ibu Sukma secara tidak sengaja atau tidak menyadari telah melakukan kekerasan simbolik yang tidak maslahat bagi kehidupan bersama kita.
Ini penafsirannya menjadi sangat subjektif karena berkaitan dengan RASA dalam berbahasa dan RASA dalam makna.
Seni untuk seni ?
Syariati berkata seni untuk kehidupan.
Kehidupan untuk saling mengasihi dan mencintai.