Selasa, 10 Oktober 2017 19:20

Anak Berhadapan dengan Hukum Pengaruhi Kekerasan Psikis

Perspektif Anak & Hukum
Permasalahan Anak Berhadapan dengan Hukum Dibahas dalam Seminar KPAI
Permasalahan Anak Berhadapan dengan Hukum Dibahas dalam Seminar KPAI [Limawaktu]

Limawaktu.id - Sepanjang 2011 hingga 2017 terdapat 9.266 kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) . Dari tahun ke tahun, jumlah paling banyak yaitu pada tahun 2014. Di mana jumlah kasus ABH mencapai jumlah 2.208. Paling tinggi kedua pada 2013 yaitu sebanyak 1.428 kasus. Tertinggi ketiga pada 1.413 kasus pada 2012.

Selain itu, dari kasus tersebut terdapat anak yang sebagai pelaku. Jumlahnya pun tak kalah tinggi. Tercatat, pada tahun ini anak sebagai pelaku kekerasan seksual sebanyak 116 kasus. Sedangkan anak sebanyak korban, terdapat 134 kasus merupakan anak korban kekerasan seksual. 

Menurut Komisioner Bidang Trafficking Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ai Maryati Solihah , kasus ABH ini ternyata menimbulkan stigma di masyarakat. Secara tidak langsung, lanjut dia, hal tersebut menjadi penyumbang kekerasan psikis terhadap anak. ”Imbas paling parah dari stigmatisasi membuat anak melakukan bunuh diri,” kata Ai Maryati Solihah saat memberikan keterangannya, Selasa (10/10)

Selain itu, dalam kasus kekerasan anak dan perempuan adalah elemen paling rawan dalam penerimaan kekerasan.  Maka diperlukan pandangan baru guna menghadapi hal tersebut. Di mana mulai hari ini masyarakat perlu berpikir positif dan mengucapkan hal-hal positif dimulai dari diri sendiri.  

Tempat yang paling mudah untuk mengawali hal tersebut adalah dalam ruang lingkup keluarga terlebih dahulu. Serta, para orangtua perlu mendukung dan mengarahkan apa yang dilakukan oleh anak. Tanpa perlu justifikasi terhadap anak. ”Justifikasi dari orangtua dapat menimbulkan anak tidak percaya diri dengan apa yang dilakukan oleh anak,” katanya.

Kasus lainnya yang menjadi tren di antaranya, anak sebagai korban trafficking, anak korban prostitusi, anak korban eksploitasi seks komersial dan anak sebagai korban eksploitasi pekerja. Pada 2016 terdapat 340 kasus anak yang ditangani oleh KPAI.  Jumlah paling tinggi adalah anak sebagai korban prostitusi yaitu sebanyak 112 kasus. Selanjutnya, kasus anak sebagai korban eksploitasi sebanyak 87 kasus.. Sedangkan anak sebagai korban perdagangan sebanyak 72 kasus.

Terakhir adalah anak sebagai korban eksploitasi seks komersia sebanyak 69 kasus.  Pada tahun ini anak sebagai korban prostitusi masih cukup tinggi, yaitu sebanyak 83 orang. Selanjutnya adalah anak sebagai korban eksploitasi pekerja sebanyak 76 kasus. ”Sedangkan anak sebagai eksploitasi seks komesial sebanyak 66 kasus dan anak sebgai korban trafficking sebanyak 31 kasus,” ungkapnya.

Diperluan penanganan terbaik bagi anak. Di mana mementingan kepentingan terbaik bagi anak. Tanpa ada diskriminasi dan partisipasi terbaik dari semua stakeholder.  Hal tersebut, guna menjaga kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Hal itu sudah dipertegas dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi  anak dan hak-haknya  agar dapat  hidup, tumbuh, berkembang.

 ”Masyarakat harus berpartisipasi dalam membantu penanggulangan kekerasan terhadap anak. Sehingga anak sesuai dengan harkat martabat kemanusiaan, sera  mendapat perlindungan dari kekerasan  dan diskriminasi,” pungkasnya. (lie)