Rabu, 7 Maret 2018 18:26

AHY Cawapres Jokowi?

Reporter : Jumadi Kusuma
Dr. Wawan Goenawan (Wagoen), pengamat politik Universitas Jenderal Achmad Yani.
Dr. Wawan Goenawan (Wagoen), pengamat politik Universitas Jenderal Achmad Yani. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Kunjungan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke Istana Negara yang disambut hangat oleh Presiden Joko Widodo tentunya menimbulkan spekulasi politik walaupun hanya mengantar undangan Rampimnas Partai Demokrat.

Dr. Wawan Goenawan (Wagoen) pengamat politik Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Kota Cimahi menuturkan bahwa dalam Rapimnas Demokrat yang akan berlangsung 10-11 Maret mendatang isu sentralnya tentang siapa capres yang akan diusung pada Pilpres 2019 dan koalisi partai pengusung.

"Peluang Partai Demokrat mengusung Jokowi lebih besar dibanding calon lain. Selain sebagai petahana, tingkat keterpilihan Jokowi tertinggi untuk capres 2019", tutur Wagoen.

Menurutnya hasil survey LSI pada Januari lalu elektabilitas Jokowi tertinggi sebesar 48,50%, dengan tingkat kepuasan publik diatas 70%.

"Jika melihat hasil survey, posisi Jokowi masih belum aman dan berpotensi tergerus, terlebih jika isu-isu primordial, ekonomi, dan tenaga asing yang terus digoreng lawan politiknya", jelasnya.

Jika pada Rapimnas memutuskan mendukung Jokowi maka ini menjadi langkah yang sangat strategis dan saling melengkapi.

"Demokrat membutuhkan figur populis seperti Jokowi untuk mendongkrak elektoral, disisi lain Jokowi juga membutuhkan Partai Demokrat yang lebih familiar dengan kalangan Islam", paparnya.

Selain itu keberadaan AHY sebagai kader emas Demokrat, bisa menjadi solusi terbaik untuk dipilih Jokowi sebagai cawapres.

"Sebagai new comer didunia politik AHY dalam survey LSI menjadi cawapres dengan popularitas tertinggi mencapai 71,2% melampaui popularitas para seniornya seperti Gatot Nurmantyo (56,5%) dan Moeldoko (18,0%)", imbuhnya.

Dengan popularitas setinggi itu AHY berpotensi mendongkrak elektabilitas Jokowi jika dipasangkan. Sosoknya yang masih muda, dengan tingkat kematangan berpolitik menjadi potensi besar untuk memuluskan periode kedua kepemimpinan Jokowi.

"Tentu perlu langkah-langkah yang lebih strategis untuk mewujudkan hal tersebut, seperti membangun komunikasi lebih intensif dengan partai pengusung Jokowi lainnya," tuturnya.

Gaya komunikasi politik AHY yang lugas, energik dan khas bisa membangun atmosfer baru jika Demokrat jadi bergabung dengan partai koalisi pengusung Jokowi.

"Saat ini dalam partai koalisi pengusung Jokowi mulai panas berebut posisi cawapres, dengan bergabungnya Demokrat dan menyodorkan AHY sebagai cawapres diprediksi bisa lebih mencairkan suasana", pungkasnya.