Rabu, 11 Agustus 2021 12:37

Suport Suami jadi Penyemangat Greysia Polii di Lapangan

Reporter : Muhammad Ankawijaya
Pasangan Ganda Putri Greysia Polii/Apriani Rahayu mengekspresikan kegembiraannya saat meraih medali emas olimpide Tokyo, Senin (2/8/2021)
Pasangan Ganda Putri Greysia Polii/Apriani Rahayu mengekspresikan kegembiraannya saat meraih medali emas olimpide Tokyo, Senin (2/8/2021) [Instagram ]

Limawaktu.id,- Pebulutangkis Greysia Polii mengungkap semangatnya saat di lapangan menghadapi lawan-lawannya dalam setiap pertandingan. Atlet yang berpasangan dengan Apriani Rahayu ini baru-baru ini mengukir sejarah dan menyabet medali emas di Olimpiade Tokyo 2020.

Menurutnya, Sejak 2014 semenjak dia mulai menjalani hubungan dengan Felix Djimin, tak  pernah absen untuk memimpinnya dalam doa sebelum  bertanding. Felix tak pernah absen untuk berdoa memimpin  dalam lapangan dan luar lapangan, menang atau kalah.

“Hingga kini, Doa ini sebagai simbol bahwa Felix  ikut berperang bersama-sama aku, apalagi semenjak kami menjadi suami-istri Dia semakin ingin merasakan apa yang aku rasakan, “ katanya, dalam akun isntagramnya, Rabu (11/8/2021).

 Dia mengaku benar-benar bersyukur mempunyai suami yang menjadi support system yang luar biasa supportive, penyayang, peduli dan sangat mencintainya  apa adanya. Anugerah Tuhan yang luar biasa ketika Tuhan memberikan hidup bebas merdeka untuk mencintai dan dicintai oleh orang lain.

Seperti diketahui, pada Senin (2/8/2021) menjadi hari bersejarah dalam kiprah tim bulu tangkis ganda putri Indonesia di kancah Olimpiade. Setelah hampir 30 tahun cabang bulu tangkis dipertandingkan, untuk pertama kalinya tim ganda putri Indonesia yang diwakili pasangan Greysia-Apriani berhasil menyabet medali emas di Olimpiade Tokyo 2020.

Sejak cabang bulu tangkis dipertandingkan pertama kali pada 1992 di Barcelona, Spanyol, tim bulu tangkis Indonesia selalu berhasil merebut medali emas di semua nomor, kecuali ganda putri.

Melansir dari Bisnis.com, prestasi tertinggi yang berhasil diraih nomor ganda putri adalah mencapai perempat final pada gelaran tersebut.

Prestasi itu diukir oleh pasangan Finarsih-Lili Tampi, yang pada partai tersebut ditaklukkan oleh pasangan asal Korea Selatan Gil Young-ah dan Sim Eun-jung.

Di Olimpiade 1996, tim ganda putri Indonesia kembali terhenti di babak perempat final. Kala itu, pasangan Eliza-Resiana dihentikan oleh tim asal Tiongkok yang diwakili Ge Fei-Gu Jun.

Posisi akhir di perempat final kembali terulang di Olimpiade 2000 di Sidney. Pasangan asal Tiongkok tersebut kembali mengalahkan tim ganda putri Indonesia yang diwakili Etty Tantri-Cynthia Tuwankotta.

Terakhir, pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brazil, babak perempat final menjadi akhir perjalanan duet Nitya Krishinda Maheswari-Greysia Polii yang kalah dari wakil Tiongkok Tang Yuanting-Yu Yang.

Tim bulu tangkis ganda putri Indonesia sempat mengalami fase yang lebih buruk, di mana pada Olimpiade 2004 pasangan Jo Novita-Lina Nurlita yang takluk oleh wakil Tiongkok Yang Wei-Zhang Jie Wei di putaran kedua, setelah bermain rubber game.

Pada olimpiade berikutnya yang berlangsung di Beijing, Tiongkok, pasangan Liliyana Natsir-Vita Marissa tersungkur di putaran pertama, takluk dari Yang Wei-Zhang Jie Wei.

Catatan terkelam terjadi di Olimpiade London 2012, dimana pasangan Meiliana Jauhari-Greysia Polii yang sudah lolos ke perempat final didiskualifikasi karena dianggap sengaja mengatur hasil akhir babak penyisihan grup bersama dua tim asal Korea Selatan dan satu tim dari Tiongkok.

Baca Lainnya