Selasa, 22 Mei 2018 19:36

Tugu Bubur Ayam Cianjur senilai Rp 200 Juta, rame-rame di Protes

Reporter : Jumadi Kusuma
Tugu Bubur Ayam Cianjur.
Tugu Bubur Ayam Cianjur. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Pembangunan tugu Bubur Ayam di pertigaan Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur mendapat sorotan dan menuai protes dari berbagai kalangan karena dipandang tidak memiliki filosofi yang jelas dalam konteks sejarah dan nilai budaya leluhur Cianjur.

Pembangunan tugu yang menelan anggaran sebesar Rp. 200.000.000,- tersebut juga mendapat sorotan dari Majelis Adat Gagang Cikundul (MACG) yang mempertanyakan filosofi, sejarah dan nilai budayanya.

"Tugu sebagai tanda kekhasan suatu daerah semestinya mengacu pada warisan otentik leluhur Cianjur yang berakar dalam sejarah dan memiliki nilai budaya yang adiluhung" tandas Karatuan MAGC, Susane Febriyati Soeriakartalegawa kepada limawaktu.id, Selasa (22/5/18).

Karenanya terkait Tugu Bubur Ayam yang harus dipahami secara historis adalah bahwa mangkok dan bubur ayam itu asal usulnya darimana serta bagaimana menjadi bagian dari Cianjur.

"Sejarah mangkuk bubur ayam merah itu berasal dari zaman Dinasti Ming dari Tionghoa, yang memang membantu secara ekonomi di Cianjur pada tahun 1.800. Makanya ada Toko Shianghai, Wisma Karya dan lainnya, itu semua bukti China berkembang di Cianjur. Zamannya Aria Wiratanu VI," jelas, Susane.

Terkait dengan sejarah tersebut dengan Tugu Bubur Ayam, menurut Susane tidak bisa dianggap sepele.

"Tugu Bubur Ayam sebagai tanda kewilayahan, identitas suatu wilayah mengisyaratkan pesan bahwa peran orang Tionghoa dalam mendongkrak perekonomian Cianjur jangan pernah dilupakan secara historis dan tetap eksis hingga kini", tutur Susane.

Fakta sejarah tersebut tidak bisa dipungkiri akan tetapi Pemkab Cianjur tidak bisa menghilangkan identitas Cianjur, tambahnya.

"Ini memperlihatkan bahwa sejak dulu Cianjur telah hidup berdampingan dalam multiculture dan yang menjadi tantangan saat ini adalah menjaga dan melestarikan akar sejarah yang menjadi identitas Cianjur", pungkas Susane.

Baca Lainnya