Trotoar di Jalan Mahar Martanegara yang Kerap Dijadikan Tempat Pembuangan Sampah oleh Warga
Trotoar di Jalan Mahar Martanegara yang Kerap Dijadikan Tempat Pembuangan Sampah oleh Warga [Foto istimewa]
News

TPS di Cimahi Belum Ideal, DLH Pilih Opsi Ini Meski Harus Tertahan Karena Covid-19

Cimahi - Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah di Kota Cimahi disebut belum ideal untuk menjadi tempat transit sampah sebelum dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Hingga saat ini, jumlah TPS sampah permanen yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi baru ada 16 titik yang tersebar di 15 kelurahan. Keberadaan TPS itu ditopang dengan 8 Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST).

"TPS permanen di kita belum ideal saat ini. Idealnya setiap kawasan, misalnya 6 RW 1 TPS," kata Kepala DLH Kota Cimahi, Mochammad Ronny saat ditemui, Jumat (12/6/2020).

Keterbatasan lahan menjadi salah satu kendala pihaknya untuk membangun TPS. Alhasil, kekurangan TPS tersebut kerap menimbulkan titik kumpul sampah baru oleh masyarakat.

DLH Kota Cimahi pun menyimpan bak truk sampah agar tidak terjadi tumpukan sampah.

"Di titik kumpul itu kita sediakan unit bak truk sampah, seperti di Jalan Mahar Martanegara di pinggir jalan. Di sana kan belum ada TPS," kata Ronny.

Untuk ke depan, terang dia, pihaknya tidak akan fokus untuk melakukan penambahan TPS, tapi lebih mengedepankan pengelolaan sampah sejak dari sumber melalui program zero waste. Program tersebut sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu.

Artinya, sampah yang dihasilkan akan dipilah sejak dari sumber untuk dijadikan barang yang lebih bermanfaat. Kemudian nantinya sampah yang dibuang ke TPA hanya residusnya saja atau sampah yang memang tidak bisa didaur ulang.

"Kita tidak ke penambahan TPS, tapi ke program terpusat ke pengelolaan sampah di sumber. Jadi kalau sudah dikelola di hulu (sumber), yang dibuang ke TPA jadi berkurang," jelas Ronny.

Cara untuk menjalankan program tersebut, lanjut Ronny, pihaknya bersama para kader turun ke masyarakat untuk memberikan edukasi.

Rencana awal tahun ini, pihaknya akan menerapkan program tersebut fokus di Kelurahan Cibabat dan Pasirkaliki dengan bekal anggaran Rp 1,7 miliar.

Namun, anggaran tersebut dipangkas untuk penanganan Corona Virus Disease (Covid-19).

"Jadi memang programnya bertahap. Kita awalnya tahun ini fokus untuk 2 kelurahan, nanti berlanjut ke kelurahan lain. Saya targetkan 3 tahun harus sudah jalan sehingga sampah yang dibuang ke TPA berkurang," bebernya.

Berdasarkan data DLH Kota Cimahi, timbulan sampah tahun 2019 mencapai 270,399 ton per hari (100 persen). Sampah-sampah itu dihasilkan dari berbagai sumber.

Komposisi sampahnya meliputi sampah organik 50,6 persen, kertas 8,6 persen, plastik 15,6 persen, logam 3,1 persen, kain 5,3 persen, gelas kaca 3,0 persen, B3RT 1,4 persen dan sampah lainnya 12,5 persen.

Dari total timbulan sampah itu, yang bisa tertangani hanya 259,757 ton (96,06 persen) per hari, dan yang tidak tertangani 10,642 ton (3,94 persen) dalam sehari.

"Yang tertangani itu ada yang tereduksi dari sumber (pengurangan) sebesar 37,077 ton ata 3,71 persen sehari. Kemudian yang diangkut ke TPA sebanyak 222,68 ton per hari atau 82,35 persen," terangnya.

Baca Lainnya