Kamis, 11 Januari 2024 21:33

Temui Wapres, Gerakan Nurani Bangsa Suarakan Keutuhan Bangsa

Reporter : Bubun Munawar

Limawaktu.id, Jakarta - Sejumlah tokoh yang mengatasnakamakn Gerakan Nurani Bangsa melakukan kunjungan kepada Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, di istana Wapres, Kamis (11/1/2024).

Para pengurus Gerakan Nurani Bangsa yang terdiri dari  istri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid yakni Sinta Nuriyah hingga Quraish Shihab dan lainnya, menemui Wakil Presiden Ma’ruf Amin di Istana Wakil Presiden, Jakarta, untuk membahas pentingnya menjaga Keutuhan Bangsa.

"Sore hari ini para tokoh bangsa, baru saja berdialog dengan Wapres Ma’ruf Amin dan tadi kami membicarakan tentang bagaimana menjaga keutuhan bangsa," kata putri sulung Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid usai pertemuan di Jakarta.

Putri Pertama Abdurrahman Wahid Alissa menjelaskan, para tokoh yang hadir membuat sebuah inisiatif berupa Gerakan Nurani Bangsa yang berangkat dari keinginan untuk menjaga keutuhan bangsa dan cita-cita bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Sementara, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, para tokoh ini  bertemu pada titik temu yang sama berkomitmen agar bangsa ini ditengah perbedaan dan kemajemkukan tetap utuh terjaga dan terawat..

“Gerakan Nurani Bangsa ini mengingnkan agar  Keutuhan bangsa menjadi konsen,” katanya.

Dia menjelaskan, Pemilu yang jadi kegiatan periodik  dari proses demokrasi menjadi sebuah keniscayaan, melahirkan banyak polarisasi, yang berpotensi mengancam keutuhan bangsa.

“Itulah kami ingin menyuarakan itu sekedar mengingatkan, kesadaran saluruh anak bangsa untuk  menjaga keutuhan bangsa ini. Dengan cara lebih mengedepankan nilai-nilai  moral, nilai etika, azas kepantasan, kepatutan yang tadi oleh bapak Wapres ditekankan bahwa setiap anak bangsa selalu disadarkan agar menggunakan akal sehatnya dan hati yang bersih,” jelasnya.

Sedangkan Romo Kardinal mengungkapkan, yang paling penting dijaga dan dirawat adalah kebersatuan. Jika melihat pada sejarah, selama 350 tahun Indonesia di jajah oleh Belanda, tidak bisa merdeka karena dipecah belah. Sampai pada tahun 1928 tercetuslah Supmpah Pemuda Satu Nusa Satu Bangsa dan Satu Tanah Air, Yang bermacam-macam itu dijadikan satu,

“17 Tahun kemudian terjadi proklamasi kemerdekaan, menurut saya itu sangat dahsyat dan simbolik. Ketika kita semua bersatu apa yang menjadi tantangan dihadapan kita bisa diatasi,” pungkasnya.

Baca Lainnya