Limawaktu.id, Kota Cimahi">Kota Cimahi - Kegagalan untuk mencapai potensi pertumbuhan linier (kondisi pendek/ stunting)sejak dini telah diakui secara luas sebagai hambatan utama bagi pengembangan sumber daya manusia. Prevalensi stunting, istilah umum untuk anak yang pendek dibandingkan usianya, telah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Penyebab stunting dilihat dari sudut pandang gizi sudah banyak dilakukan bahkan pemerintah Indonesia telah membuat berbagai regulasi untuk perbaikan gizi anak-anak.
Namun penyebab stunting yang berkaitan dengan angka kesakitan akibat maslaah lingkungan masih belum mendapatkan perhatian luas. Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi diare sebagai penyakit yang menjadi penyebab utama kematian dan kesakitan anak [2]. Bahkan diare menjadi salah satu penyebab kejadian stunting secara tidak langsung. Karena gangguan usus yang disebut enteropati lingkungan, yang kemudian dikaitkan dengan gangguan pertumbuhan.
Sebagian besar kasus diare tersebut diyakini disebabkan oleh pencemaran lingkungan 88% diperkirakan berhubungan dengan air yang tidak aman, sanitasi yang tidak memadai, atau kebersihan yang tidak memadai, Oleh karena itu, fokus penting dari upaya pengurangan stunting salah satunya adalah intervensi yang efektif dan terjangkau yang bertujuan untuk memperbaiki lingkungan penyakit dengan mengatasi akses terhadap air minum yang aman, sanitasi yang memadai, dan perilaku higienis.
Di Kota Cimahi, program sanitasi diantaranya dilakukan dengan kegiatan pembangunan tangki septik individual (SPALD-S), pembangunan tangki septik komunal ( SPALD-T), optimalisasi/rehabilitasi SPALD-T, serta pembangunan MCK Umum, yang pada dasarnya akan mendukung, baik berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap program penurunan stunting.
“Kenapa demikian? Karena program-program sanitasi tersebut salah satunya bertujuan menurunkan beban pencemaran lingkungan dari pencemaran parameter fecal coli (bakteri coli) terhadap sumber air tanah (air bersih) dan air permukaan (air sungai),” terang Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kota Cimahi, Ami Pringgo Mardani, didampingi Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Perumahan dan Permukiman Afif Mego Nugroho, Sabtu, 14 Maret 2026.
Dia menyebutkan, sepanjang 2010-2025, di Kota Cimahi sudah terbangun Komunal skala 20-600 Kepala Keluarga sebanyak 158 unit untuk 12.588 saluran rumah yang bersumber dari dana APBD, Bantuan Provinsi, Dana Alokasi Khusus, APBN, hibah pemerintah Australia dan dana Tanggungjawab Sosial Lingkungan perusahaan di Cimahi.
Tak hanya itu juga dilakukan rehab/ pembangunan mck 277 unit yang bersumber dari dana APBD Kota Cimahi. Sementara data pembangunan tangki septik individu 2023-2025, telah dibangun 1.797 unit/ rumah tangga; sumber dana dari APBD, DAK, Bantuan Keuangan dan APBN.
“Pada tahun 2026 akan dilakukan TS Individu sebanaya 104 unit dari dana APBD, rehab/ penambahan ruang MCK 4 titik yang diusulkan melalui pokir 2 anggota dewan, 2 dari P2WKSS , serta iplt 1 unit dengan kapasitas 45 m3/hari yang dananya dari APBN, “ sebutnya.
Menurutnya, Dengan berkurangnya beban pencemaran terhadap sumber air tersebut akan meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama ibu hamil atau balita yang relatif lebih rentan terhadap pencemaran tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan sanitasi ini sangat mendukung program penurunan stunting di Kota Cimahi.