Cimahi - Kepala Bidang Pertanian pada Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, Mita Mustikasari menyebutkan, hewan kurban yang dijual tahun ini masih didominasi dari luar daerah.
Untuk sapi, kebanyakan didatangkan pedagang dari luar Jawa Barat. Seperti Gunung Kidul dan Madiun. Sedangkan domba dominan berasal dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Garut, Cianjur hingga Tasikmalaya.
"Kalau hewan kurban lokal Cimahinya kaya sapi dari wilayah Cipageran itu paling 10 persen," terang Mita saat ditemui, Senin (3/8/2020).
Dikatakan Mita, data itu diperoleh setelah pihaknya melakukan berbagai tahapan pemeriksaan terhadap hewan kurban. Dari mulai pemeriksaan di lapak penjual yang dilakukan sejak tanggal 20 hingga 28 Juli 2020.
Hasilnya, tercatat ada 2.090 ekor hewan diperiksa petugas. Dari hasil pemeriksaan itu, ditemukan sebanyak 145 ekor hewan kurban yang sakit dan 226 yang kurang umur. Hewan kurban yang sakit dan tidak cukup umur itupun tidak disarankan untuk dijual.
"Kalau jumlah hewan yang sehat dan Mlmemenuhi syarat sebanyak 1.705 ekor," ujar Mita.
Kemudian pihaknya melakukan pemeriksaan ante mortem (sebelum disembelih) DKM yang tersebar di Kota Cimahi pada 30 sampai 31 Juli lalu. Tercatat ada 2.059 ekor yang diperiksa. Rinciannya, sapi sebanyak 832 ekor domba sebanyak 1.224 ekor dan kambing 3 ekor.
Dari hasil pemeriksaan anter mortem itu, terang Mita, pihaknya menemukan 17 ekor sapi, 142 domba dan 1 ekor kambing yang belum cukup umur.
"Lalu ada 27 ekor yang sakit. 13 domba terkena orf, 13 domba terkena pink eye dan 1 sapi kena caplak," terang Mita.
Pada 31 Juli sampai 1 Agustus pihaknya melakukan pemeriksaan post mortem (sesudah disembelih) di DKM. Total ada 3.383 ekor hewan yang diperiksa. Rinciannya, sapi sebanyak 1.302 ekor, domba sebanyak 2.072 ekor dan kambing 9 ekor.
Hasilnya, ungkap Mita, ada 28 ekor sapi yang terkena cacing hati, 43 ekor domba terkena cacing hati. Ada juga 1 ekor sapi dan domba yang terkena pneumonia, 1 ekor sapi terkena necrosis serta 2 ekor sapi terkena sorisis hati.
Meski dalam pemeriksaan post mortem ada hewan kurban yang terkena penyakit, lanjut Mita, namun masih bisa dikonsumsi karena tidak menular kepada manusia.
"Jadi dagingnya masih aman untuk dikonsumsi. Tapi harus dibersihkan dulu," tandas Mita.