Selasa, 1 September 2020 20:00

Patut Dicontoh, Warga KBB Sulap Sampah Plastik jadi Paving Block

Reporter : Fery Bangkit 
Toni Permana (41) Pembuat Paving Block Berbahan Dari Sampah Plastik.
Toni Permana (41) Pembuat Paving Block Berbahan Dari Sampah Plastik. [Foto Istimewa]

Bandung Barat - Toni Permana (41) tahu betul cara memanfaatkan sampah plastik bekas makanan dan minuman. Sampah plastik tersebut ia olah menjadi sebuah paving block yang berdaya guna dan berpotensi memiliki nilai jual.

Di sebuah gudang las miliknya di Kampung Sukamaju, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB),  ia dan beberapa rekannya mendaur ulang
sampah plastik itu menjadi paving block. Padahal biasanya paving block berbahan dasar pasir dan semen.

"Betul saya dan warga lainnya membuat paving block dari sampah plastik yang sudah tidak terpakai. Misalnya dari bungkus mie, kopi, permen yang tidak lagi bisa dimanfaatkan," ungkap Toni saat ditemui, Selasa (1/9/2020).

Ide awal pembuatan paving block berbahan plastik itu didapat ketika Toni menonton sebuah tayangan pembuatan produk serupa di daerah lain. Dari sanalah ia mulai terpikir untuk mencoba membuatnya.

paving block berbahan plastik yang Diperlihatkan Oleh Toni Ditempat Pembuatan.

"Kemudian saya ajak warga lain dan ya berjalan sampai sekarang. Difasilitasi bank sampah juga," ujarnya.

Proses pembuatan paving block tersebut semuanya masih secara manual. Mulai dari mencacah sampah plastik, membakar, mencetak, hingga paving block selesai dan siap digunakan.

Semua alat yang digunakan pun ia buat sendiri seperti alat pencacah plastik, tunggu memasak plastik, alat press, hingga cetakan memanfaatkan barang bekas yang ada di bengkel las miliknya.

"Ya manfaatkan barang sisa yang ada," ucap pria yang juga menjabat Ketua RW itu.

Untuk membuat paving block, diawali dengan mencacah sampah plastik. Kemudian cacahan itu dimasukkan ke panci untuk dimasak di tungku yang membara. Ditambah oleh sekam atau bubur gergaji. Setelah diaduk, kemudian campuran yang meleleh itu dituangkan ke cetakan paving block kemudian dipress.

"Kalau sudah selesai dipress terus cetakannya dicelupkan ke air untuk didinginkan. Ya sekitar 15 menit, bisa juga lebih. Kalau sudah dingin ya tinggal dikeluarkan dari cetakan dan jadi paving blocknya," jelas Toni.

Paving block sampah itu sudah diuji oleh beberapa universitas dan hasilnya sangat layak digunakan. Ia sudah pernah mengaplikasikan produknya itu di jalan gang dan taman.

"Sudah teruji juga. Sempat ada yang pesan dari luar daerah untuk dipasang di taman dan jalan gang, alhamdulillah klien puas," katanya.

Namun ia dan warga lain yang terlibat dalam proyek tersebut masih belum bisa memproduksi paving block secara massal. Dal sehari ia hanya mampu menghasilkan 15 pcs paving block sampah plastik dengan harga Rp 220 per meter.

"Kalau untuk produksi massal masih belum sanggup, karena terkendala peralatan. Maksimal itu hanya 15 pcs sehari. Harganya per meter atau 25 pcs itu Rp 220 ribu. Ya mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah," tandasnya.

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer