Kamis, 1 Februari 2018 12:42

Nikmati Gerhana Bulan, Warga di Cimahi dan Bandung Barat Pilih Cara Religius

Reporter : Fery Bangkit 
Jemaah Memenuhi Bangunan Utama Masjid Agung Cimahi.
Jemaah Memenuhi Bangunan Utama Masjid Agung Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Eksotisme yang disajikan saat fenomena super blue blood moon pada Rabu (31/1/2018) menjadi perhatian masyarakat Indonesia.

Cara Religius dilaksanakan diberbagai daerah untuk mensyukuri keagungan Tuhan itu, termasuk warga di Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat.

Selepas shalat magrib mulai terdengar lantunan takbir menggema dari pengeras suara masjid-masjid yang ada di Kota Cimahi, salah satunya dari Masjid Agung Cimahi.

Satu persatu jemaah, baik pria dan wanita terus berdatangan memenuhi shaf di dalam bangunan utama masjid.

Dikatakan Ketua DKM Masjid Agung Cimahi, Totong Solehudin, ia bersyukur dengan banyaknya jamaah yang berdatangan ke Masjid Agung, yang berarti semakin banyak umat yang memakmurkan rumah Allah. Disamping itu, kesadaran beragama masyarakat yang semakin tinggi juga menjadi alasan membludaknya jamaah

"Tidak semua umat muslim, bisa meluangkan waktu untuk melaksanakan shalat sunah Gerhana ini. Selain itu, juga karena ini jadi salah satu kesempatan yang sangat baik, bagi umat muslim mengagungkan kebesaran Allah lewat gerhana," ujar Totong saat ditemui di Masjid Agung Cimahi, Rabu (31/1/2018).

Totong yang juga merupakan Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Kota Cimahi, mengapresiasi peran dari media sosial dalam menyebarluaskan informasi mengenai shalat gerhana di hampir semua masjid di Indonesia, termasuk di Kota Cimahi.

Ia juga sempat menanggapi adanya tanggapan sinis terhadap surat edaran dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang isinya ajakan melaksanakan shalat gerhana di masjid-masjid Jakarta.

"Saya kira masyarakat sudah cerdas, tanpa perlu dihimbau pun sebetulnya mereka akan datang dengan ikhlas untuk beribadah. Kalau ada yang menganggap menghimbau shalat berjamaah itu kontraproduktif bagi seorang pemimpin daerah, kembali lagi ke pribadi dan keyakinan masing-masing. Allah tidak butuh kita, tapi kita yang butuh Allah. Ditanggapi sinis itu wajar, tapi sangat disayangkan terjadi seperti itu," jelas Totong.

Pihaknya juga melakukan hal yang sama, yakni menghimbau ASN di Kota Cimahi, untuk dapat meluangkan waktu sejenak, bersama-sama mendekatkan diri dan memuji keagungan Allah dengan shalat gerhana berjamaah.

"Sudah kami himbau, tapi masalah datang atau tidak, ya dikembalikan lagi ke orangnya. Ini bukan paksaan. Untuk Pak Wali Kota sebelumnya sudah menyatakan akan hadir, tapi urung karena masih ada kegiatan bersama masyarakat," bebernya.

Totong berharap selepas shalat gerhana, ia dan jamaah lainnya bisa bersama-sama menikmati gerhana, yang menjadi bukti kebesaran Allah dan mematahkan teori bumi datar.

"Tentu harus dinikmati bersama-sama, ini jadi satu kesempatan yang langka. Kalau melihat cuaca, agak sedikit pesimis, tapi semua hal bisa terjadi dengan kehendak Tuhan, berdoa saja langitnya jadi terang," tandasnya.

Hal yang sama tersaji di Kampung eduwisata sekaligus observatorium Imah Noong yang berada di Kampung Areng, Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sekitar 150 pengunjung turut menggelar Shalat Gerhana Bulan Total ((GBT). Selain itu, seluruh pengunjung yang hadir diajak untuk mengamati pergerakan gerhana.

Pendiri Imah Noong, Hendro Setyanto mengatakan setiap kegiatan Gerhana Bulan Total, ia selalu mengadakan acara ngawangkong samagaha dengan tema 'Spektakel Samagaha'. Kegiatan yang menggabungkan apresiasi manusia terhadap alam dari sisi agama, budaya dan sains. 

"Alhamdulillah, cukup banyak yang hadir. Kita membatasi beberapa telepon yang ingin datang kesini dan sangat menyesal tidak bisa menerima semuanya karena kapasitas 150 orang," ujarnya di lokasi, Rabu (31/1/2018).

Menurutnya, para pengunjung yang hadir berasal dari Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon, Bandung dan Jakarta. Katanya, sepekan sebelum acara pihaknya membuat pengumuman tentang kegiatan pengamatan gerhana.

Ia menuturkan, pengunjung yang hadir akan diajak untuk shalat gerhana kemudian dilanjutkan dengan menyaksikan gerhana bulan total. Sebanyak tiga teropong akan digunakan untuk melihat gerhana dari dua teropong permanen dan lima teropong portabel miliknya.

"Saat gerhana kita gunakan tiga teropong," ungkapnya. Dirinya menambahkan, sejak pengumuman dibuka sekitar 3-4 hari kuota yang akan hadir sudah terpenuhi. Katanya, mereka yang hadir bisa memberikan donasi untuk Imah Noong.

Hendro mengatakan tujuan keberadaan Imah Noong yaitu sebagai tempat pengembangan eduwisata dan pemberdayaan masyarakat. "Masyarakat bisa hadir ke Imah Noong yang sudah ada sejak 2014 meneropong," ungkapnya.

Menurutnya, sejak tahun 2017 Imah Noong sudah menambah fasilitas yaitu Musholatorium sebagai planetarium pertama di Jawa Barat. Tempatnya diharapkan bisa menjadi tempat berbagi astronomi. 

Ia mengatakan saat peresmian Musholatorium telah dihadiri Kepala Lapan, Thomas Djamaludin dan telah datang pengunjung dari Arab Saudi dan akan kedatangan pengunjung dari Malaysia Februari mendatang.

"Sekarang yang sedang direncanakan membangun mahad ilmu Falaq. Kita ingin menunjukan astronomi bisa dikembangkan dimana saja termasuk di perkampungan," ungkapnya.

Baca Lainnya