Merananya Pedagang Dibalik Erupsi Berkelanjutan Gunung Tangkuban Parahu
Merananya Pedagang Dibalik Erupsi Berkelanjutan Gunung Tangkuban Parahu [Fery Bangkit]
News

Merananya Pedagang Dibalik Erupsi Berkelanjutan Gunung Tangkuban Parahu

Limawaktu.id - Tepat 26 Juli 2019, Gunung Tangkuban Parahu mengalami erupsu. Dari erupsi tersebut , muncul kolom abu dengan tinggi sekitar 200 meter di puncak Gunung Tangkuban Parahu.
Kolom abu itu berwarna kelabu dan condong ke arah timur laut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 38 mm dan berdurasi sekitar 5 menit 30 detik.

Erupsi Gunung Tangkuban Parahu yang terjadi hari ini adalah jenis erupsi freatik. Erupsi freatik sendiri adalah erupsi yang disebabkan oleh adanya air bawah tanah yang berinteraksi dengan magma panas kemudian mendidih.

Kondisi ini kemudian menyebabkan penguapan dan uap ini kemudian memberikan tekanan sehingga akhirnya menyebabkan letusan karena tekanan sudah terlalu tinggi. Sebab dari erupsi tersebut, kawasan wisata Gunung Tangkuban Parahu langsung ditutup. Hampir dua bulan lamanya wisata yang diapit Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang itu tak bisa dikunjungi wisatawan sebab Kawah Ratunya masih terpantau mengalami tremor.

Ditutupnya aktivitas kunjungan  berdampak buruk bagi masyarakat sekitar, terutama para pedagang yang biasa mencari penghasilan di lokasi wisata tersebut. Kepala Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Jajang Ruhiat mengatakan, sejak kunjungan wisata Tangkuban Parahu ditutup pasca erupsi, otomatis penghasilan para pedagang turun drastis.

"Pedagang yang biasa berjualan di Tangkuban Parahu tidak punya pemasukan. Karena kondisi gunung tak menentu, ada pedagang yang pindah jualan ke Orchid Forest, Grafika dan tempat wisata lainnya," kata Jajang, Jumat (20/9/2019).

Kemudian ada juga yang berhenti dari aktifitas berdagangnya. Bahkan, kata Jajang, sebagian pedagang terpaksa menjual motor, televisi hingga mengadaikan surat tanah untuk menyambung hidup keluarganya. Untuk meringankan beban hidup pedagang, pemerintah desa telah mengusulkan kepada Pemkab Bandung Barat agar mereka diberikan bantuan.

"Beberapa waktu lalu kami sudah rapat dengan bupati untuk memberikan bantuan alakadarnya bagi pedagang yang selama ini tidak bisa berjualan di Tangkuban Parahu," ungkapnya. Dia menyebut, bupati merespon baik usulan pemerintah desa ini dan siap membagikan bantuan sembako bagi 1.500 pedagang asal Desa Cikole. Sambil menunggu waktu penyaluran bantuan, pihaknya masih mendata para pedagang yang berhak menerima bantuan.

"Kami kumpulkan KTP serta kartu atau lisensi pedagang sebagai dasar untuk diberikan bantuan. Kami yakin proses itu tidak akan lama sehingga bantuan bisa segera disalurkan," tuturnya. Mengacu pada kejadian erupsi 2013, menurut Jajang, pada waktu itu ribuan pedagang diberikan bantuan sembako beras, minyak goreng dari Pemda serta uang Rp 150 ribu dari BNPB.

Oleh karena itu, tambah dia, sebab erupsi kali ini lebih lama dibanding tahun 2013 maka sudah selayaknya para pedagang diberikan bantuan. Meski sudah lama menganggur, dia meminta pedagang tetap bersabar dan menunggu kondisi Tangkuban Perahu kembali normal. Untuk menghilangkan kejenuhan, Jajang berharap pedagang diberikan pelatihan evakuasi bencana serta bantuan fasilitas lainnya. "Menurut kabar terbaru, tremor Tangkuban Parahu terus menurun, tetapi masyarakat harus tetap tenang, tunggu instruksi dari pihak berwenang," pungkasnya. 

Baca Lainnya