Syawalan Yenny  Wahid bersama keluarga, tahun ini diisi dengan rangkaian sowan ke para tokoh dan ziarah ke sejumlah maqbaroh di Jawa Timur.
Syawalan Yenny Wahid bersama keluarga, tahun ini diisi dengan rangkaian sowan ke para tokoh dan ziarah ke sejumlah maqbaroh di Jawa Timur. [instgram@yennywahid]
News

Menjaga Tradisi, Menyambung Silaturahmi, Syawalan Penuh Makna Yenny Wahid

Limawaktu.id, Banyuwangi– Syawalan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga momentum merawat nilai, mempererat silaturahmi, dan menanamkan jejak spiritual kepada generasi muda. Hal itu tergambar dalam perjalanan Yenny  Wahid bersama keluarga, yang tahun ini diisi dengan rangkaian sowan ke para tokoh dan ziarah ke sejumlah maqbaroh di Jawa Timur.

Perjalanan dimulai dari Banyuwangi, wilayah di ujung timur Pulau Jawa yang dikenal kaya akan budaya dan tradisi. Setibanya di sana, rombongan disambut hangat oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan tokoh inovatif nasional Abdullah Azwar Anas. Suasana keakraban terasa kental dalam jamuan sederhana namun berkesan—rawon dan soto khas Banyuwangi yang menggugah selera.

Namun, perjalanan ini bukan semata agenda silaturahmi formal. Esok paginya, rombongan melanjutkan sowan kepada ulama setempat, Kyai Fadlu Rohman Zaini. Dalam tradisi pesantren, sowan bukan hanya kunjungan, tetapi juga bentuk penghormatan sekaligus ruang menimba keberkahan. Dari pertemuan itu, keluarga membawa pulang buah tangan istimewa: buku nasab para nabi karya KH Mustafa Bisri, sebuah karya yang sarat nilai sejarah dan spiritual.

Perjalanan berlanjut ke kediaman Ummi Khoiriyah As’ad, sosok perempuan ulama yang dikenal luas akan keteguhan dan kedalaman ilmunya. Ia merupakan istri dari mendiang pahlawan nasional KH As’ad Syamsul Arifin. Dalam pertemuan itu, tergambar sosok perempuan tangguh yang tetap istiqomah menuntut ilmu dan mengabdikan diri kepada masyarakat, khususnya dalam bidang hadis.

Rangkaian perjalanan ini kemudian ditutup dengan nuansa yang lebih personal. Rombongan bertolak menuju Probolinggo, tepatnya Kraksaan, untuk sowan kepada keluarga—kakek dan nenek. Di titik inilah, makna Syawalan menemukan bentuk paling sederhana sekaligus paling dalam: kembali ke akar, merajut kasih sayang keluarga, dan menjaga hubungan lintas generasi.

Lebih dari sekadar perjalanan, Syawalan ini menjadi cermin bagaimana tradisi dapat tetap hidup di tengah modernitas. Melalui langkah-langkah kecil—sowan, ziarah, dan silaturahmi—nilai-nilai luhur diwariskan, bukan lewat kata, melainkan melalui teladan.

 

Baca Lainnya