News

Menengok Sentra Furniture di Kelurahan Cipageran Kota Cimahi

Limawaktu.id, Kota Cimahi – Setiap daerah pasti memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri baik dari ciri khas makanan, kerajinan, handycraft dan lain-lain. Begitupun di Kota Cimahi. Kota kecil yang hanya tiga kecamatan ini memiliki sentra, yang  tak hanya dikenal sentra kripik saja di Kelurahan Setiamanah Kecamatan Cimahi Tengah.Namun, dibagian utara Kota Cimahi, tepatnya di Kampung Pasir Kiara Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara, terdapat puluhan pengrajin yang  sudah belasan tahun menekuni usaha pembuatan Furniture seperti meja, rak buku, kursi, sofa dan lain-lain yang berlokasi di tiga RW di Kelurahan Cipageran, yaitu  RW 16,RW 17 dan RW 18.

Salah seorang pengrajin furniture, Ikbal mengungkapkan, sejak 2009 dirinya melakukan aktivitas  membuat furniture yang dipesan oleh konsumennya.

“Pada 2009 hingga 2013 Saya awalnya bekerja ditempat orang  sambil belajar. Lalu sejak 2013 sampai sekarang mulai  membuka usaha sendiri  pembuatan furniture sesuai dengan pesanan,” ungkap Ikbal, ditemui di kediaman sekaligus bengkelnya, di RW 16 Pasir Kiara Cipageran, Kamis, 27 November 2025.

Ikbal meneyabutkan, di tiga RW se Kelurahan Cipageran ini ada lebih dari 30 orang pengrajin yang kesehariannya membuat furniture sesuai dengan pesanan. Pesanan  kebanyakan berasal dari luar Kota Cimahi seperti Bandung, Jakarta, Bogor dan kota lainnya di Jawa Barat.

“Biasanya mereka yang memesan furniture adalah pihak ketiga atau pengusaha yang mendapatkan pekerjaan baik dari instansi pemerintah maupun swasta,” sebutnya.

Dia menjelaskan, dalam sebulan rata-rata bisa membuat 2 atau 4 pesananan furniture, namun terkadang juga bisa zonk. Biasanya furniture yang dibuatnya dibanderol dengan harga minimal Rp1,5 juta,  Rp2 juta, ada juga yang sampai Rp4 juta atau lebih. 

“Variasi harga tersebut disesuaikan dengan bahan baku atau material yang dibutuhkan serta ongkos kerja. Kita menjualnya dengan cara dimeter, jadi harganya bervariasi,” jelas Ikbal.

Sejak 12 tahun menggeluti usaha furniture ini, Ikbal mengaku belum pernah mendapatkan bantuan permodalan baik dari instansi pemerintah ataupun swasta. Jadi para pengrajin masih mengandalkan modal sendiri atau ada juga yang meminjam kepada perorangan.

“Yang kami butuhkan untuk meningkatkan produksi furniture ini adalah akses permodalan dan akses pemasaran,” paparnya.

Diapun berharap agar pemerintah bisa memberikan bantuan modal dan akses pemasaran produknya supaya para pengrajin mendapatkan penghasilan yang lebih baik lagi, termasuk dilakukan pembinaan agar para pengrajin bisa lebih berkembang.

“Kami belum memiliki semacam paguyuban pengrajin furniture. Nantinya kami ingin memiliki wadah sehingga bisa ada pembinaan dari pemerintah agar usaha kami terus berkembang,” pungkasnya.

 

Baca Lainnya