Senin, 25 Februari 2019 10:36

Longsoran Proyek Perumahan Hantui Warga Kampung Adat Cireundeu

Reporter : Fery Bangkit 
 Longsoran kecil mulai terlihat dari proyek pembangunan perumahan di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.
Longsoran kecil mulai terlihat dari proyek pembangunan perumahan di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Longsoran kecil mulai terlihat dari proyek pembangunan perumahan di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Longsoran terlihat tepat di atas pemukiman warga. Tanah dengan kemiringan 30 derajat yang sudah digunduli pengembang itu mulai tergerus aliran air saat hujan deras yang terjadi, Sabtu (23/2/2019) malam.

Baca Juga : Warga Cibogo juga Takut oleh Pembangunan Perumahan di Cireundeu

Dampaknya, warga pun merasa cemas dengan kondisi tersebut. Terlebih lagi, lahan proyek Griya Asri Cireundeu itu belum dipasang Tembok Penahan Tanah (TPT). Jika hujan turun semakin lebat, longsoran tambahan sangat berpotensi terjadi lagi.

Warga sudah merasakan dampak kecilnya dari aktivitas pembangunan itu. Material longsoran batu batu-batu kecil dan tanah terbawa arus ke aliran selokan hingga menyumbat lubang aliran air. Sumbatan diperparah dengan adanya sampah akibat prilaku buruk masyarakat.

Baca Juga : Bangun Perumahan Diketinggian 30 Derajat, Pemkot Cimahi Desak Pengembang Sediakan Saluran Over Flow

Akibatnya, bukannya masuk ke aliran selokan melewati gorong-gorong, air malah meluap ke jalan yang biasa dilewati warga Kampung Adat Cireundeu. Selain itu, air juga merusak gudang penyimpanan dan pengelolaan singkong.

Berdasarkan pantauan pada Minggu (24/2/2019), warga dibantu Tim Kecebong Kota Cimahi tengah membersihkan sumbatan-sumbatan di area selokan. Sementara di lokasi longsoran atau proyek perumahan, terlihat jelas bekas tanah-tanah yang terbawa air deras saat hujan. 

Baca Juga : Kebutuhan Hunian Dibalik Izin Perumahan di Kampung Adat Cireundeu

Sama sekali tak ada penahan tanah disana. Jika tak ada pohon, seperti pohon bambu, bukan tak mungkin longsoran lebih besar akan terjadi di sana.

Sesepuh Kampung Adat Citeundeu, Asep Abas mengaku, ia dan warga lainnya khawatir dengan kondisi proyek perumahan itu. Terutama dengan potensi longsornya. Dirinya meminta pengembang segera memasang TPT.

"Kalau khawatir pasti ada. Untuk itu tetap kita pantau (proyek itu)," ujarnya.

Proyek pembangunan sendiri dikabarkan berhenti sementara. Sebab, sebelum pembangunan dilanjutkan, harus dipasang TPT terlebih dahulu. Meski terhenti, namun alat berat masih berada di area proyek.

Menurut informasi, kata Asep, pihak pengembang bakal memasang TPT dalam waktu dekat ini. TPS menjadi salah satu syarat agar pembangunan bisa dilanjutkan. Keberadaan tembok penahan itu sangat diperlukan mengingat proyek berada di Gunung Gajah Langu yang memiliki kemiringan 40 derajat lebih.

"Sepertinya segera mungkin dibangun DPT. Karena mungkin membutuhkan biaya besar, jadi perlu waktu," katanya. 

Perihal meluapnya aliran air dari selokan, Asep mengaku bukan kali ini saja terjadi. Meski begitu, ia membantah bahwa penyebabnya adalah longsoran kecil dari proyek perumahan.

"Ada sedimentasi. Itu sudah biasa namanya juga di kebun," tandasnya.

Proyek Griya Asri Cirendeu sempat menuai kontroversi. Pasalnya, pihak pengembang berani memulai pembangunan sejak awal tahun 2018 meski belum memiliki izin. Pembangunan akhirnya dihentikan.

Oktober 2018, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pun dikeluarkan Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cimahi. Pembangunan pun dilanjutkan. Aktifitasnya masih sama, yakni menambah area yang digunduli di Gunung Gajah Langu. 

Baca Lainnya