Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Moh. Ruslan, S.S. menghadiri sebuah acara di Bali beberapa waktu lalu.
Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Moh. Ruslan, S.S. menghadiri sebuah acara di Bali beberapa waktu lalu. [Istimewa]
News

Lepas Jabatan Sekwil PKB Bali, Ruslan Nyatakan Mundur jadi Anggota PKB

Limawaktu.id, Denpasar - Dinamika politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Bali menjadi sorotan setelah Moh. Ruslan, S.S. menyatakan pengunduran dirinya dari keanggotaan PKB sekaligus melepaskan jabatan sebagai Sekretaris Wilayah DPW PKB Bali.

Melalui surat pernyataan tertanggal 28 Juni 2026, Ruslan menegaskan bahwa keputusannya diambil setelah melalui proses perenungan, pertimbangan, dan evaluasi panjang. Ia juga menyebut keputusan tersebut dibuat secara sadar dan tanpa tekanan dari pihak mana pun.

Namun, mundurnya seorang sekretaris wilayah tentu memunculkan pertanyaan di tengah publik: apakah ini sekadar keputusan pribadi, atau ada dinamika politik yang lebih besar di baliknya?

Dalam surat pengunduran dirinya, Ruslan menggambarkan keputusannya sebagai langkah yang tidak mudah. Ia mengakui PKB telah menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdian, perjuangan, serta pengalaman politiknya.

Di sisi lain, ia menyinggung pentingnya menentukan sikap berdasarkan hati nurani, prinsip, dan keyakinan. Pernyataan tersebut mengundang perhatian karena memperlihatkan adanya pertimbangan mendasar sebelum ia memilih meninggalkan partai.

“Saya jelaskan, pengunduran diri ini tidak ada konflik internal, perselisihan dengan pimpinan, ataupun pihak tertentu sebagai penyebab pengunduran diri saya,” terang Ruslan, dalam siaran pers yang diterima Limawaktu.id, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Ruslan menegaskan, dirinya ingin berpisah secara baik-baik, tanpa kebencian dan permusuhan. Bahkan Ia menyampaikan terima kasih kepada para pimpinan, pengurus, kader, simpatisan, serta seluruh keluarga besar PKB yang selama ini memberikan kepercayaan dan kebersamaan.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ia berupaya menempatkan pengunduran diri sebagai keputusan politik yang tetap menghormati hubungan personal.

Namun, satu hal yang menarik perhatian adalah penekanannya pada prinsip dan hati nurani. Apakah hal tersebut menjadi sinyal perubahan arah pengabdian politiknya? Untuk saat ini, belum ada keterangan yang cukup untuk menyimpulkan lebih jauh.

“Setelah meninggalkan jabatan dan keanggotaan partai, saya akan tetap melanjutkan pengabdian kepada masyarakat melalui cara dan ruang yang diyakini sesuai dengan prinsip pribadi saya,” kata Ruslan.

Pernyataan tersebut membuka ruang spekulasi mengenai langkah berikutnya dalam perjalanan sosial dan politiknya. Akan tetapi, belum ada pengumuman resmi mengenai rencana politik baru ataupun afiliasi yang akan dipilihnya.

Publik kini menanti: apakah pengunduran diri ini akan menjadi penutup perjalanan Ruslan bersama PKB, atau justru menjadi awal babak baru pengabdiannya di Bali?

Satu hal yang jelas, keputusan mundur dari jabatan strategis di tingkat wilayah selalu menarik untuk dicermati. Bukan hanya soal siapa yang pergi, tetapi juga bagaimana dinamika organisasi dan arah pengabdian politik ke depan.

Baca Lainnya