Pembina PERDIBROFI Jawa Barat Dr. Firdaus Azwar Ersyad, M.Sn menjadi narasumber dalam Layar Paminton di Bale Paminton, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat, 4 September 2026
Pembina PERDIBROFI Jawa Barat Dr. Firdaus Azwar Ersyad, M.Sn menjadi narasumber dalam Layar Paminton di Bale Paminton, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat, 4 September 2026 [Istimewa]
News

Layar Paminton Dorong Film Pelajar, Guru Dinilai Jadi Kunci Ekosistem

Limawaktu.id, GARUT — Pembina PERDIBROFI Jawa Barat Dr. Firdaus Azwar Ersyad, M.Sn. menilai pertumbuhan film pelajar perlu dibarengi dengan penguatan kapasitas guru. Guru dinilai memiliki posisi strategis karena mendampingi proses belajar dan produksi film siswa dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.

Firdaus menyampaikan hal itu dalam Layar Paminton di Bale Paminton, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat, 4 September 2026. Kegiatan yang digelar Komite Film Dewan Kesenian Garut bersama Garut Film Forum tersebut mempertemukan pelajar, guru, komunitas film, dan pegiat seni melalui pemutaran film serta diskusi bertajuk Screening Film, PERDIBROFI Talk.

“Jika kita menghendaki film pelajar tumbuh secara berkelanjutan, hemat saya yang diperkuat tidak hanya siswanya. Guru juga perlu memiliki akses terhadap pengetahuan, praktik, jejaring, dan perkembangan perfilman yang terus berubah,” kata Firdaus.

Dosen Artpreneurship Telkom University itu mengatakan pendidikan film di sekolah perlu ditopang oleh ruang pemutaran dan jejaring yang menghubungkan sekolah dengan komunitas, perguruan tinggi, serta praktisi perfilman.

Menurut Firdaus, film karya pelajar juga tidak semestinya dinilai sebatas kecakapan teknis. Produksi film merupakan proses belajar untuk mengembangkan gagasan, bekerja secara kolaboratif, dan berkomunikasi melalui medium audiovisual.

“Proses pendidikan film tidak berhenti ketika film selesai dibuat. Justru ketika karya diputar, didiskusikan, dan mendapatkan respons, di situlah pengalaman belajar mereka menjadi lebih lengkap,” ujarnya.

Layar Paminton menayangkan sejumlah karya pelajar, antara lain Anak Silat dari SMKN 7 Garut, Rumah Tanpa Nama dari SMKN 5 Garut, Aa, Ada Kan? dari SMKN 2 Garut, Rekaman yang Terhapus dari SMKN 4 Garut, Belenggu dari SMKN 1 Garut, dan Jeda yang Usai dari SMK PASIM Plus Sukabumi. Film Rekuiem dari LA Memorie Pictures Bandung serta NARA turut hadir dalam rangkaian pemutaran.

Ketua Komite Film Dewan Kesenian Garut sekaligus Koordinator Wilayah PERDIBROFI Jawa Barat, Yudi Gendong, mengatakan guru menjadi penghubung penting dalam menjaga keberlanjutan film pelajar.

Menurut dia, peningkatan kompetensi guru perlu mencakup pengembangan ide, literasi audiovisual, proses kreatif, kerja kolaboratif, etika produksi, hingga pendampingan apresiasi karya.

Layar Paminton kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan sekolah, guru, komunitas, akademisi, dan praktisi, sehingga produksi film pelajar dapat berkembang menjadi proses pembelajaran yang berkelanjutan.

 

Baca Lainnya