Limawaktu.id - Belakangan ini, hujan memang mulai turun di Kota Cimahi. Namun tak lantas turunnya hujan tersebut membuat krisis air bersih sejumlah wilayah di Kota Cimahi berakhir. Seperti yang dirasakan warga di Jalan Baros RT 02/RW 07 Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi. Distribusi air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) maupun air sumur belum bisa dinikmati secara optimal.
Sebab hingga Kamis (21/11), mereka masih antre air kiriman dari Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Air Minum Kota Cimahi. Warga sudah hampir 6 bulan, terhitung sejak awal musim kemarau, mengalami kesulitan air bersih. Sumur-sumur warga jadi kering, dan aliran air PDAM juga tidak normal. Tak jarang mereka harus mengeluarkan kocek lebih dalam untuk membeli air bersih.
Berdasarkan pantauan, sejumlah warga terlihat sudah antre sejak pukul 12.30 WIB. Namun begitu tangki yang berisi 5 ribu liter tersebut datang, warga yang antre semakin banyak. Untuk menampung bantuan air tersebut, warga yang didominasi ibu-ibu ini menggunakan sejumlah wadah dari mulai ember, jeriken hingga galon.
"Kami hanya mengandalkan air dari sumur artesis bantuan dari Pemkot Cimahi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, air tersebut tidak bisa digunakan untuk minum dan kebutuhan memasak. Dan aliran airnya juga sedikit," ungkap Ketua RT 02, Rosni (46).
Menurutnya, warga di wilayahnya kebanyakan pelanggan PDAM, ada pula yang memiliki sumur resapan. Dari tiga sumur artesis yang ada, hanya ada satu unit yang berfungsi. "Ada 3 sumur artesis disini, tapi yang masih ngalir hanya satu, itu pun ngalirnya sedikit. Air PDAM juga sudah 6 bulan ngga ngalir normal, seringnya sih ngga ngalir," terang Rosni.
Dijelaskan Rosni, di wilayahnya terdapat 90 Kepala Keluarga (KK) dengan 220 jiwa, dan semuanya terdampak kekeringan. Sejak mengalami kesulitan air bersih, warganya hanya mengandalkan bantuan pasokan dari UPTD Air Minum Kota Cimahi. "Dari PDAM juga ada kiriman melalui mobil tangki," ucap Rosni.
Disebutkannya, meskipun sudah ada hujan, namun belum mampu mengatasi permasalahan kesulitan air di wilayahnya. "Ada hujan tapi tetap aja air PDAM ngga ngalir, sumur warga juga masih kering. Kalau tahun kemarin, hujan baru dua atau tiga hari juga air sudah pada ngalir," bebernya.
Memey (51), seorang warga mengatakan, air PDAM yang jadi langganya jarang mengalir selama musim kemarau. Sehingga ia dan warga lainnya hanya mengandalkan bantuan kiriman air bersih dari sejumlah instansi.
"Kalau ngga ada babtuan ya terpaksa beli. Tapi harganya cukup mahal, Rp 20 ribu untuk satu roda yang berisi 8 jeriken ukuran kecil. Jadi lebih boros," katanya.
Kasubbag Tata Usaha (TU) UPTD Air Minum Kota Cimahi, Muhammad Thoha mengatakan, hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir belum begitu berpengaruh mengatasi kekeringan. Bahkan permintaan untuk distribusi air tetap diterima, baik melalui telepon atau surat ke UPTD Air Minum Kota Cimahi.
"Biasanya awal musim hujan itu belum semua air hujan meresap ke sumur. Jadi masih ada permintaan (air)," katanya. Disebutkan Thoha, hingga saat ini sudah ada 38 lokasi yang dikirim oleh UPTD Air Minum, dan dibantu oleh Seksi Taman pada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) sebanyak tiga truk tangki, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) satu truk tangki.
"Masing-masing truk mereka mengirim 1 tangki per hari. Karena mereka harus melaksanakan penyiraman taman dan pohon-pohon. Sedangkan pengiriman oleh Damkar sebanyak 9 lokasi," terangnya.
Terkait stok air bersih, Thoha menyebutkan masih cukup untuk menyuplai kebutuhan air masyarakat Kota Cimahi, yang terdampak krisis air bersih saat musim kemarau. "Untuk pelanggan air minum, Alhamdulillah pelayanan kita masih 24 jam. Air baku masih cukup memenuhi kebutuhan. Untuk warga yang tidak terlayani jaringan perpipaan, kita mengirim air tangki sesuai dengan permintaan dari warga," terangnya
Sementara kapasitas pengolahan air yang terletak di Komplek Perkantoran Pemkot Cimahi Jalan Demang Hardjakusumah itu masih bisa diandalkan disaat terjadi darurat krisis air bersih. "Kapasitas instalasinya mencapai 50 liter/detik, dan baru dimanfaatkan sekitar 30 - 35 liter/detik," tandas Thoha.