Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq saat meninjau  lokasi longsor Pasirlangu Kabupaten Bandung Barat.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq saat meninjau lokasi longsor Pasirlangu Kabupaten Bandung Barat. [instagram@haniffaisolnurofiq]
News

Kementerian LH Akan Selidiki Penyebab Longsor di Pasirlangu Bandung Barat

Limawaktu.id, Bandung Barat - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) akan menurunkan Tim Ahli untuk menyelidiki penyebab terjadinya longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

“Saya sudah sampaikan kepada Bapak Bupati Bandung  Barat dan mulai besok KLH akan menurunkan tim ahli, sebagaimana yang sebelumnya kami lakukan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Penanganan persoalan lingkungan harus berbasis ilmiah, tidak bisa dilakukan dengan perkiraan semata,” terang Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, di akun instagramnya, Senin, 26 Jnauari 2026.

Menurut Hnaif, Tim ahli akan bergabung dengan pemerintah daerah di bawah pimpinan Bupati Bandung Barat untuk melakukan pendalaman secara menyeluruh terhadap kondisi lanskap di wilayah terdampak.

“Kami akan melakukan kajian yang sangat detail terhadap lanskap kawasan ini. Setelah itu, akan dirumuskan langkah-langkah penanganan lanjutan,” katanya.

Dia menjelaskan, tidak menutup kemungkinan adanya pendalaman kasus lingkungan, termasuk evaluasi tata ruang dan perbaikan lanskap. Sperti yang telah disampaikan Gubernur Jawa Barat, serta akan dibahas lebih lanjut bersama pemerintah kabupaten.

“Kajian ini membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu, melibatkan para ahli dari akademisi, BRIN, dan berbagai pihak lainnya untuk merumuskan langkah yang tepat,” jelas Hanif.

Sambil menunggu hasil kajian tersebut, pemerintah daerah tetap dipersilakan melakukan langkah-langkah penanganan pascabencana bagi warga terdampak.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Bandung Barat mengalami hujan selama empat hari berturut-turut dengan puncak curah hujan mencapai 68 milimeter per hari.

Curah hujan ini sebenarnya tidak tergolong ekstrem jika dibandingkan dengan kasus di Aceh yang mencapai 145 hingga 200 milimeter per hari, atau di kawasan Ciliwung yang mencapai 127 milimeter per hari.

“Artinya, dengan hujan yang tidak terlalu deras sekalipun, kondisi lanskap kita sudah sangat berbahaya. Ini menjadi peringatan serius bahwa kita harus segera melakukan langkah-langkah mendasar demi keberlanjutan lingkungan,” pungkas Hanif..

Baca Lainnya