Limawaktu.id, CIMAHI — Pembangunan proyek Underpass Cimahi senilai Rp126 miliar yang didanai Pemprov Jawa Barat dan Pemkot Cimahi mendapat perhatian serius saat diinspeksi langsung oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM). Proyek strategis yang ditargetkan rampung pada 31 Desember tersebut saat ini telah mencapai progres sekitar 24 persen untuk mengurai titik kemacetan parah di Kota Cimahi.
Dalam inspeksi mendadak (Sidak) tersebut, KDM menemukan sejumlah persoalan krusial, mulai dari dugaan pemotongan upah pekerja harian, ketiadaan jaminan keselamatan kerja, hingga kebutuhan penyesuaian desain struktur untuk perlintasan alutsista TNI AD.
Dalam peninjauan di lapangan, KDM berinteraksi langsung dengan para pekerja bangunan untuk mengonfirmasi besaran upah harian yang diterima. Hasil temuan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara besaran anggaran Rencana Anggaran Biaya (RAB) kontraktor dengan realisasi yang diterima pekerja:
KDM menegur keras pihak kontraktor dan pelaksana proyek agar tidak mengambil keuntungan perusahaan dengan menekan hak upah pekerja. Selain masalah upah, para pekerja baru belum didaftarkan ke jaminan BPJS Ketenagakerjaan/K3 serta belum dibekali perjanjian kerja tertulis yang transparan.
“Saya tegaskan bahwa setiap proyek pemerintah wajib memberikan pelindungan keselamatan kerja dan menerapkan standar upah yang layak bagi masyarakat local,” ungkap KDM, dikutip akun Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, Senin, 12 Oktober 2026. .
Tak hanya itu, KDM juga melakukan pemeriksaan teknis terhadap material dan mutu konstruksi proyek. KDM memeriksa kerapian pembersihan serta pemasangan jaringan besi beton dan mengonfirmasi penggunaan mutu beton FC30 (30 MPa). Konsultan pengawas dan pelaksana ditegur agar selalu membawa alat ukur (meteran) serta memastikan presisi jarak antarbesi struktur sebesar 20 cm sesuai spesifikasi SOP konstruksi.
Selain temuan ketenagakerjaan, pihak Pussenarmed TNI AD mengajukan usulan penyesuaian teknis pada struktur Underpass Cimahi. Pasalnya, Markas Armed dijadwalkan menerima alutsista baru berupa roket Polonez dari Belarusia dengan panjang kendaraan 17 meter dan bobot mencapai 60 ton.
“Agar kendaraan tempur berat tersebut dapat masuk langsung ke markas tanpa hambatan, dibutuhkan penambahan penutupan jalur underpass sekitar 12 meter,” paparnya.
Menurutnya, penyesuaian struktur ini diperkirakan membutuhkan anggaran tambahan sebesar Rp5,2 miliar hingga Rp12 miliar, yang memerlukan perubahan addendum kontrak serta koordinasi anggaran antara Pemkot Cimahi dan Pemprov Jawa Barat.
Dijelaskan KDM , pembangunan Underpass Cimahi diproyeksikan menjadi solusi vital dalam mengatasi titik kemacetan kronis yang dipicu oleh perlintasan kereta api yang melintas setiap 5 hingga 7 menit sekali.
“Saya berharap proyek ini tidak hanya sukses secara fungsi lalu lintas, tetapi juga memberikan dampak kesejahteraan yang adil bagi seluruh buruh yang terlibat,” pungkasnya.