Limawaktu.id - Badan Karantina ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Bandung, peralihan cuaca dari musim hujan ke musim kemarau bisa memicu matinya ikan di keramba atau di jaring apung.
Kepala BKIPM Bandung, Deddy Arief Hendriyanto mengatakan, kondisi itu terjadi ditahun-tahun sebelumnya. Diduga kematian ikan itu karena keracunan.
"Memang banyaknya terjadi di Kabupaten Bandung Barat, kalau di Cimahi jarang," ujar Deddy saat ditemui di Kantor BKIPM, Jalan Ciawitali, Kota Cimahi, Senin (15/7/2019).
Penyebab matinya ikan di keramba atau jaring apung itu, kata Deddy, akibat perubahan cuaca, maka kondisi air di sungai tempat ikan dibudidayakan jadi kelebihan kadar amonia dan kekurangan kadar oksigen yang membuat ikan keracunan.
"Ikan tersebut mengalami kematian karena disinyalir adanya non infectious disease, jadi bukan karena penyakit, bakteri, maupun virus. Kalau diperiksa di bagian insang, nanti bisa ditemukan cacing insang," tuturnya.
Peningkatan kadar amonia dalam air juga bisa disebabkan karena pengendapan pakan ikan yang biasanya menggunakan pelet atau pakan ikan buatan sendiri.
"Karena pengendapan pakan itu, ketika hujan turun pakan akan mengapung ke atas, sedangkan pakan sudah mengendap sejak lama dan mengeluarkan gas. Jadi itulah yang menyebabkan ikan keracunan," bebernya.
Untuk itu, dia mengimbau kepada masyarakat yang menjadi pembudidaya ikan di jaring terapung maupun di medium lain, agar senantiasa membersihkan sisa pakan ikan yang mengendap.
"Penanganannya sebisa mungkin melakukan pembersihan sisa pakan ikan yang mengendap dari sekarang. Bisa dengan mengangkat jaringnya atau dengan upaya lainnya," jelasnya.
Dia menegaskan jika ikan yang mati keracunan tidak laik untuk dikonsumsi. Sebab bisa menyebabkan keracunan juga pada pengonsumsinya
"Memang di Cimahi tidak ada keramba apung, tapi bahayanya tetap mengintai manusia yang mengonsumsi ikan itu. Kan bisa saja ada oknum yang menjual ikan mati karena keracunan ke pasar, lalu dibeli dan dikonsumsi," pungkasnya.