Limawaktu.id, Jakarta - Industri Kopi Indonesia tengah menghadapi tantangan ganda di awal tahun 2026. Meskipun performa ekspor menunjukkan angka yang solid, krisis iklim mulai memberikan dampak nyata berupa lonjakan harga di tingkat konsumen dan ancaman terhadap stabilitas produksi nasional.
Berdasarkan data pasar terbaru per Februari 2026, harga kopi di Indonesia tercatat mengalami kenaikan sebesar 15%. Lonjakan ini merupakan imbas langsung dari perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah perkebunan utama.
Ketua Departemen Spesialisasi Kopi dari Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo, mengonfirmasi bahwa anomali cuaca menjadi faktor determinan utama.
"Fenomena El Nino yang diikuti hujan ekstrem di beberapa titik sentra produksi seperti Lampung dan Sumatera Selatan telah mengganggu siklus pembungaan. Hal ini menyebabkan penurunan volume panen secara organik, yang secara otomatis mendorong harga beli di tingkat petani naik drastis," ujar Moelyono dalam keterangannya di Jakarta.
Meski produksi tertekan, nilai perdagangan internasional justru mencatatkan rekor. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor kopi Indonesia pada tahun 2025 melonjak hingga 81%, mencapai USD 1,87 miliar. Lonjakan nilai ini lebih disebabkan oleh harga komoditas global yang tinggi ketimbang volume barang yang dikirim.
Di sisi hilir, para pelaku usaha mulai melakukan penyesuaian strategi agar tidak kehilangan momentum pertumbuhan konsumsi dalam negeri yang diproyeksikan mencapai 4,8 juta kantong (ukuran 60 kg) untuk periode 2024–2025.
Adi W. Taroepratjeka, seorang pakar kopi dan penilai rasa (Q-Grader), menyoroti pergeseran perilaku konsumen.
"Masyarakat sekarang tidak lagi sekadar minum kopi untuk kafein, tapi mencari pengalaman rasa. Meskipun harga di kedai naik, minat terhadap kopi artisanal dan biji kopi single origin lokal tetap tinggi karena edukasi pasar yang sudah terbentuk dengan baik," jelasnya.
Di tengah tantangan ini, keberlanjutan industri jangka panjang sangat bergantung pada generasi muda di perkebunan. Beberapa perusahaan swasta mulai menginisiasi program bantuan beasiswa bagi anak-anak petani kopi untuk memastikan regenerasi petani tetap berjalan.
"Tanpa dukungan teknologi pertanian yang tepat dan minat dari generasi muda untuk mengelola lahan, Indonesia berisiko kehilangan daya saingnya di pasar global dalam sepuluh tahun ke depan," tambah Moelyono.
Menghadapi sisa tahun 2026, kolaborasi antara pemerintah dalam penyediaan bibit tahan iklim serta komitmen pelaku usaha dalam menjaga rantai pasok yang adil menjadi strategi mutlak agar kopi Indonesia tetap berjaya di pasar internasional sekaligus tetap terjangkau bagi pencinta kopi di tanah air.