Limawaktu.id, Kota Bandung - Pemerintah Kota Bandung menghadapi ancaman serius dalam pengelolaan kebersihan kota menyusul lonjakan tajam harga solar yang kini mencapai Rp23.000 per liter. Kenaikan harga dari sebelumnya Rp14.000 tersebut mengakibatkan biaya operasional truk pengangkut sampah membengkak hingga dua kali lipat.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa situasi ini menekan postur anggaran daerah secara signifikan. Berdasarkan kalkulasi saat ini, ketersediaan anggaran operasional pengangkutan sampah diprediksi hanya akan bertahan hingga akhir Oktober 2026 jika tidak ada intervensi tambahan.
“Kenaikan ini membuat biaya BBM untuk pengangkutan sampah meningkat hingga dua kali lipat. Ini menjadi tantangan yang harus segera kita respons,” ujar Farhan di Pendopo Kota Bandung, Jumat (24/4/2026).
Selain beban biaya bahan bakar, layanan kebersihan juga terkendala oleh pembatasan kuota pembuangan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal ini memicu antrean panjang armada dari berbagai wilayah Bandung Raya, yang mengakibatkan truk-truk sampah harus menunggu hingga menginap di area TPA. Dampaknya, siklus pengangkutan sampah dari pemukiman ke tempat pembuangan menjadi terhambat.
Menanggapi krisis tersebut, Pemkot Bandung tengah mengkaji sejumlah langkah darurat, termasuk efisiensi rute operasional, penyesuaian anggaran, hingga perombakan strategi Pengelolaan Sampah dari hulu ke hilir.