Kamis, 7 Januari 2021 14:19

Hanya Punya Lahan 137 Hektare, Berapa Hasil Panen di Cimahi Sepanjang Tahun 2020?

Reporter : Fery Bangkit 
Petani di Kota Cimahi Tengah Memanen Padi
Petani di Kota Cimahi Tengah Memanen Padi [liwawaktu.id]

Limawaktu.id - hasil panen padi di Kota Cimahi tahun 2020 masih minus. Tahun ini hasil panennya hanya mencapai 18.358 ton Gabah Kering Giling (GKG). Hasil produksi padi itu jelas tidak akan menutupi kebutuhan masyarakat Kota Cimahi yang mencapai sekitar 553.755 jiwa.

"Dari seluruh kebutuhan hanya 4 persen yang bisa dipenuhi dari produksi Cimahi, selebihnya dari luar," kata Kepala Bidang Pertanian pada Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, Mita Mustikasari saat ditemui, Kamis (7/1/2021).

Produksi padi di Kota Cimahi didapat dari 137,14 hektare lahan pertanian sawah di Kota Cimahi. Rinciannya, dari wilayah Cimahi Utara ada sekitar 85 hektare dengan hasil panen gabah kering hanya 940,814 ton.

Kemudian di Kecamatan Cimahi Tengah dengan luasan lahan 8 hektare yang hasil panennya hanya 44,36 ton, serta di Kecamatan Cimahi Selatan ada 47 hektare dengan hasil panen 850,626 ton. "Produksi padi sepanjang 2020 naik sedikit dibandingkan tahun 2019 yang hanya 18.084 ton," beberapa Mita.

Tahun ini sendiri, target panen di Kota Cimahi masih sama yakni hanya 1.679,16 ton. Tidak dinaikannya target produksi padi tersebut dikarenakan adanya wabah COVID-19. "Sama dengan 2020 karena kondisi Covid-19 kita tidak menaikkan target produksi," ucapnya.

Agar hasil panennya tetap melebihi target, ada sejumlah upaya yang akan dilakukan pihaknya bekerja sama dengan para penyuluh di Kota Cimahi. Seperti menyarankan petani untuk menggunakan jamu organik biogro seperti yang sudah digunakan di beberapa lahan pertanian di Kota Cimahi.

Mita mengklaim berkat jamu organik tersebut, hasil panennya akan meningkat dari 50 sampai 100 persen. "Seperti di Ciseupan. Yang awalnya hanya sekitar 4,1 ton per hektare gabah kering, setelah pake jamu itu naik jadi 8,3 ton per hektare. Kita sarankan petani untuk pakai jamu organik biogro," imbuh Mita.

Meski sudah menggunakan jamu organik biogro, terang Mita, penggunaan pupuk juga tetap harus dilakukan para petani agar hasil panennya lebih memuaskan. "Itu kan hanya jamur penyubur padi, kalau penggunaan pupuk tetap seperti biasa," tuturnya.

Kemudian, lanjut Mita, pihaknya melakukan berbagai upaya. Di antaranya penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB), penerapan teknologi sistem tanam jajar legowo, pemakaian pupuk berimbang.

Kemudian penggunaan alat mesin pertanian secara optimal, pengendalian hama dan penyakit tanaman hingga panen padi tepat waktu. "Iya mudah-mudahan dengan upaya-upaya tersebut bisa terus meningkatkan produksi padi di Kota Cimahi," sebut Mita.

Pihaknya juga terus meningkatkan kemampyan para petani dengan penyuluhan, pendampingan dan berbagai kegiatan pengenalan budidaya padi untuk meningkatkan produktifitas padi.

"Kami terus melakukan penyuluhan dan pendampingan kepada petani. Terutama bagaimana meningkatkan produktifitas padi di Kota Cimahi," tandas Mita. 

Baca Lainnya