Limawaktu.id - Jumlah kunjungan wisata ke area perkebunan teh PTPN VIII di Sukawana, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menurun drastis setelah ada erupsi Gunung Tangkuban Perahu 26 Juli 2019 lalu.
Lokasi perkebunan ini berada kurang lebih empat kilometer dari kaki gunung yang kini terus menerus erupsi. Sebaran abu vulkanik pun merambah ke area perkebunan dan pemukiman warga.
Dampak itu setidaknya dirasakan pemilik warung bernama Onna (55) yang berjualan di area perkebunan teh. Menurutnya, pendapatannya anjlok sebab kunjungan wisatanya pun memang menurun.
"Biasanya kalau akhir pekan itu kami bisa mendapatkan Rp 1 juta paling kurang, tapi sejak Tangkuban Perahu meletus paling hanyanRp 200 ribu perhari, jauh sekali," ujar Onna, salah seorang pemilik warung di perkebunan teh Sukawana, Jumat (16/8/2019).
Meski tak sepopuler wisata Curug Cimahi atau Dusun Bambu, sedikitnya ratusan orang berkunjung ke perkebunan teh Sukawana di akhir pekan. Khususnya bagi yang inging hiking, bersepeda atau hanya sekedar menikmati pemandangan.
Tiket masuk ke area perkebunan pun hanya Rp 2500 perorang, pengunjung bisa berkemah atau melanjutkan perjalanan ke Curug Tilu, Leuwi Layung maupun sekedar berfoto ria di area perkebunan yang menyejukkan.
"Biasanya suka ada turis dari luar negeri ke sini, kalau ke sini kopi dari Lembang ini laku diborong, tapi ya sejak erupsi belum melihat lagi. Mungkin karena khawatir," katanya.
Ia berharap aktivitas Gunung Tangkuban Perahu kembali normal agar pendapatannya bisa kembali seperti dulu lagi. "Kalau terus erupsi, abunya juga sering terbawa angin ke arah rumah warga," tandasnya.
Whisnu Pradana (29), salah seorang wisatawan asal Soreang, Kabupaten Bandung menuturkan, ia datang ke perkebunan teh PTPN VIII Sukawana untuk melihat pemandangan dan hiking. "Tapi perjalanannya gak sampe ke atas, soalnya khawatir terpapar abu vulkaniknya," ucapnya.