Limawaktu.id, Jakarta - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Persiapan Pembuatan Film Seri Kepahlawanan Indonesia, yang berlangsung di Hotel Fairmont, Jakarta. Kegiatan ini menjadi langkah awal pemerintah dalam mempersiapkan produksi film seri bertema kepahlawanan nasional yang diharapkan dapat menjadi sarana pewarisan nilai-nilai perjuangan dan penguatan karakter bangsa, terutama bagi generasi muda.
FGD ini mempertemukan para sejarawan, sineas, akademisi, dan pemangku kepentingan kebudayaan untuk menyatukan pandangan tentang pembabakan dan narasi film kepahlawanan yang seimbang antara keakuratan sejarah dan kekuatan dramatik sinema.
Menurut Fadli Zon, dalam narasi tersebut harus ada tonggak-tonggak yang memang tidak boleh terlewati. Menbud kemudian menyampaikan harapan agar peristiwa Proklamasi dapat menjadi tonggak penting dalam pembuatan film tersebut. Berikutnya bisa menyampaikan rentetan peristiwa penting lainnya seperti Rapat Umum Ikada, Peristiwa Rawa Gede, Perjanjian Renville, yang menurut Menbud bisa ditampilkan dengan alur maju mundur.
"Menurut saya, itu adalah tonggak-tonggak besar yang sangat penting. Tapi tentu di antara itu banyak juga peristiwa yang signifikan di berbagai daerah, seperti pertempuran Surabaya, Medan Area, Ambarawa, Bandung Lautan Api, dan sebagainya. Semua itu punya nilai heroik yang luar biasa. Tentu saja tidak mungkin semua peristiwa itu kita tampilkan secara utuh dalam satu film, tetapi kita bisa memilih satu garis besar yang menjadi backbone cerita," terang Menbud.
Menbud turut menyampaikan harapannya agar Film Sejarah itu bukan hanya untuk hiburan, tapi juga sarana pendidikan kebangsaan, terutama bagi generasi muda. Menurutnya generasi muda juga perlu mengetahui perjuangan kita yang tidak kalah menarik. Bahkan sangat kompleks karena diwarnai diplomasi, perlawanan, dan semangat persatuan. Menbud berharap agar generasi muda tidak hanya mengetahui apa yang diceritakan tentang Perang Dunia II dan sebagainya.
"Film ini bisa menjadi sangat kaya kalau digarap dengan riset yang mendalam dan pendekatan yang kuat secara sejarah maupun sinematografi. Kalau perlu, film ini bisa berseri, karena kalau hanya satu film berdurasi dua jam, saya kira tidak akan cukup untuk menggambarkan seluruh kompleksitas periode 1945–1950 tersebut," tutup Menbud.
Sejarawan, Batara Hutagalung, menyambut pernyataan Menteri Kebudayaan, mengutarakan agar kisah-kisah heroik yang diangkat memiliki sisi-sisi humanis. Menurutnya ini merupakan hal penting, karena kalau sekarang kita ingin memasukkan tema-tema kesejarahan ke dalam film, membutuhkan suatu pendekatan yang berbeda dengan menulisnya dari buku.