Senin, 6 Agustus 2018 16:50

Colourfull Life dari Mahasiswa Upi untuk Anak-anak Kabupaten Bandung

Reporter : Fery Bangkit 
Siswa dibimbing untuk membuat tempat sampah dari bahan bekas seperti ember. Tempat sampah itu akan dihias oleh siswa dengan gambar-gambar yang mencirikan mana tempat sampah organik, anorganik, dan botol.
Siswa dibimbing untuk membuat tempat sampah dari bahan bekas seperti ember. Tempat sampah itu akan dihias oleh siswa dengan gambar-gambar yang mencirikan mana tempat sampah organik, anorganik, dan botol. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Cibiru dimanfaatkan untuk mengajak dan mengajarkan anak-anak peduli akan kondisi lingkungan.

Dalam kegiatan KKN dengan tema 'Tematik Citarum Harum' di Desa Mekarsari, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, para mahasiswa mengajak anak-anak sekitar melalui program Colourfull Life (Co-Life).

Program Co-Life yang digagas Kelompok 9 KKN Tematik Citarum Harum itu terdiri dari Sosialisasi Pemilahan Sampah (Solampah), Tempat Sampah Hiasku (Tepaku), serta dan Pot Hias Gantung (Pohitung). 

Ketua Kelompok 9 KKN UPI Kampus Cibiru, Anggi Restu Pratama menjelaskan, kegiatan ini bertujuan agar anak-anak menyadari betapa pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.

"Antusiasme anak-anak sangat tinggi sehingga mempermudah pelaksanaan program ini," ungkap Ketua Kelompok 9 KKN UPI Kampus Cibiru, Anggi Restu Pratama, Senin (6/8/2018).

Program ini kata Anggi, diawali dengan pelaksanaan kegiatan Solampah yang diselenggarakan di SD Negeri Bojong Nangka, RA Al-Muhaimin, dan TK Nurul Ikhwan. Metode yang berikan dalam merealisasikan program Solampah ini dengan cara bermain sambil belajar.

"Bermain game 'choose the right one' dan bernyanyi tepuk sampah agar lebih mengena bagi anak-anak sekolah peserta kegiatan," katanya.

Selanjutnya, kata dia, Kelompok 9 mensosialisasikan program Tepaku di SD Negeri Bojong Nangka, dengan tujuan agar siswa dapat memilah sampah dengan tepat sesuai dengan peruntukkan dan jenisnya.

"Siswa dibimbing untuk membuat tempat sampah dari bahan bekas seperti ember. Tempat sampah itu akan dihias oleh siswa dengan gambar-gambar yang mencirikan mana tempat sampah organik, anorganik, dan botol," bebernya.

Terakhir, siswa di sekolah yang sama ditambah dengan masyarakat sekitar, diajak membuat pot hias gantung, dengan bahan baku botol bekas yang sudah dipilah dan dibersihkan untuk menjadi pot bunga, kemudian tempat terebut diberikan pupuk, tanah, dan tanaman.

"Pot tanaman yang sudah jadi itu nanti digantung dan disusun di dinding rumah warga ataupun sekolah. Kami juga menggunakan ember bekas untuk dijadikan tempat sampah organik-anorganik yang bisa ditempatkan di halaman sekolah atau rumah masyarakat," jelasnya.

Ia dan anggota lainnya berharap apa yang mereka laksanakan bagi warga sekitar bisa bermanfaat dan mengedukasi, terutama bagi anak-anak. Sebab, menanamkan peduli lingkungan terhadap anak akan tertanam sampai anak-anak dewasa nanti.

"Kami berharap program yang telah kami realisasikan membuat anak dapat menjaga lingkungannya sejak dini dan memahami betapa pentingnya peduli terhadap lingkungan, sekarang maupun masa yang akan datang," pungkasnya.

Baca Lainnya