Kamis, 29 November 2018 13:46

Bandung Barat Rawan Pelecehan Seksual

Reporter : Fery Bangkit 
ilustrasi
ilustrasi [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id - Angka kekerasan terhadap anak di Jawa Barat tahun 2018 mengalami penurunan 20 persen. Meski begitu, jumlahnya disebut masih tinggi.

Berdasarkan temuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat di lapangan, trend kasus kekerasan anak di setiap daerah berbeda. Misalnya di Cianjur dan Indramayu adalah trafficking, sedangkan di Bandung Barat dan Sukabumi rata-rata ialah pelecehan seksual.

Agar angkanya terus diturunkan, pemerintah wajib memberikan hak dan perlindungan bagi anak. Sedangkan KPAID sebagai unsur masyarakat mengambil peran sesuai dengan tugas dan fungsi yaitu mencegah tindakan kekerasan dan perilaku menyimpang pada anak, serta pengawasan dan pemenuhan hak anak.

"Fungsi inilah yang harus terus dioptimalkan oleh pemerintah selaku penyelenggara perlindungan anak. Sinergitas kelembagaan perlindungan anak di Jabar sangat urgent untuk menghadirkan generasi muda yang unggul dan tangguh," kata Ketua KPAID Jabar, Ahmad Saftari Al fadil, Kamis (29/11/2018).

Dia menyatakan, KPAID diberi mandat oleh negara melalui Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 untuk menjadi garda terdepan dalam pemenuhan hak serta perlindungan anak. Dengan jumlah penduduk Jabar mencapai 48 juta jiwa, dimana sekitar 45 persennya dikategorikan anak berusia 5-20 tahun, pilar-pilar perlindungan anak harus bisa memenuhi hak anak, seperti memperoleh pendidikan, kesehatan, pengasuhan orang tua yang baik, terbebas dari penyiksaan serta perlakuan yang kejam. 

"Orang tua harus melakukan pengawasan secara optimal baik di rumah, sekolah dan tempat bergaulnya. Tidak harus dengan cara-cara keras agar anak turut dan taat pada orang tua, justru sebaliknya, apabila dengan cara keras, anak akan semakin berani dan badel," bebernya.

Menurut dia, anak yang memiliki kepribadian baik atau soleh merupakan dambaan setiap orang tua. Namun tentunya, lanjut Ahmad, semua itu butuh proses, bagaimana anak bisa bahagia bersama orang tua, begitu pun sebaliknya orang tua senang saat mendampingi anaknya.

"Anak-anak tidak happy dan enjoy di rumah, malah rumah bagaikan neraka, inilah problem besar pengasuhan orang tua. Akan kami gencarkan advokasi pola pengasuhan anak bagi kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat termasuk soal pernikahan usia dini di kalangan remaja," tuturnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, cita-cita yang tinggi orang tua untuk anak jangan sekedar simbolik semata, tanpa memperhatikan urgensi peran orang tua. Maraknya kasus di kalangan remaja, seperti tawuran antar pelajar, broken home, sexs bebas, narkoba, pernikahan usia dini dan pembunuhan, kondisi-kondisi seperti ini anak dalam kondisi kegamangan sosial, mereka butuh perhatian serius dari orang tua.

Baca Lainnya