Kamis, 16 Agustus 2018 17:45

Asmara dan Kereligiusan Veteran Perang 'Bandung Lautan Api'

Reporter : Fery Bangkit 
Amir Husain (97)-Ening Ningsih (88).
Amir Husain (97)-Ening Ningsih (88). [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id - 'Kemesraan ini janganlah cepat berlalu, kemesraan ini inginku kenang selalu, hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu, hatiku damai jiwaku tentram bersamamu'.

Bagian reff lagu berjudul 'Kemesraan' yang dipopulerkan Iwan Fals itu patut disematkan untuk menggambarkan kemesraan sepasang suami istri, Amir Husain (97)-Ening Ningsih (88).

Sepasang suami-istri yang tinggal di Komplek Corps Veteran Republik Indonesia (KCVR) di Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi itu merupakan saksi sejarah merdekanya Republik Indonesia, terutama peristiwa Bandung Lautan Api tahun 1946.

Ketika disambangi ke rumahnya pada Kamis (16/8/2018), Apa Amir dan Mak Ening masih memperlihatkan sisi keromantisannya. Tatapan tajam Mak Ening terhadap seperti menandakan bahwa cinta itu memang sejati.

Mengenakan pakaian batik, kain sarung serta topi ciri khas veteran, Apa Amir dan Mak Ening terlihat berkaca-kaca saat menceritakan kisah cintanya yang teramat sulit dilupakan. Sebab, asmara keduanya tumbuh saat penjajah Belanda datang ke Indonesia.

Apa Amir yang lahir tahun 1921 merupakan purnawirawan Tentara Republik Indonesia (TRI). Pangkat terakhirnya sebelum pensiun adalah Letnan Dua (Letda). Ia adalah salah satu pelaku sejarah.

Sedangkan Mak Ening, kelahiran tahun 1930 saat itu hanyalah seorang warga sipil biasa yang berjualan singkong untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Gara-gara singkong itulah, keudanya dipertemukan.

Pertemuan keduanya berlangsung saat peristiwa Bandung Lautan Api. Pada peristiwa itu, Mak Ening mengungsi ke Pintu Hideung, Cicalengka. Sebelum kemudian mengungsi lagi ke Tasikmalaya Tahun 1947.

"Saat ketemu, emak (Mak Ening) jualan singkong, Bapak (Apa Amir) mengawal Bung Karno ke Tasikmalaya. Ketemu di Cimahi, nikah di Bandung tahun 1949," terang Mak Ening.

Kemudian, tahun 1950, keduanya mendapatkan surat nikah dan sudah dikaruniai sembilan orang anak.

Momen saat penjajahan dan perang melawan Belanda masih terlihat dari bekas luka warna hitam di bagian kakinya. Kalau itu, Apa Amir terkena bayonet (Senjata tajam yang dirancang untuk dipasang pada moncong senjata api laras panjang).

Seakan mengenang masa perjuangannya untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-73, sambil terbata-bata Apa Amir mengingatkan agar anak muda zaman sekarang agar mau berjuang demi negara.

"Harapan apa anak-anak muda harus disiplin, teguh membela negara. Anak sekolah harus tahu sejarahnya kemerdekaan," tutur Apa Amir.

Selain itu, ia juga mengingatkan tentang makna tanggal kemerdekaan yang jatuh pada 17 Agustus 1945. Dikatakannya, tanggal 17 ialah untuk mengingatkan agar umat Islam jangan meninggalkan shalat lima waktu.

"Peringatan Pak Karno (ir Soekarno) memberi 17 Agustus itu kita jangan lupa 17 raka'at (shalat)," tuturnya.

Baca Lainnya