Limawaktu.id - Rifki Mulyanudin, bocah 11 tak bisa beraktifitas seperti anak lainnya. Tubuhnya terkulai lemas di atas kasur rumahnya di kediamannya di Kampung Bobojong RT 6/15 Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi.
Dulu, Rifki yang kuat dan selalu bermain sepak bola kini hanya bisa terbarung akibat penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Anehnya, penyakitnya itu tak dikenali sampai sekarang.
Herna Purnamasari (33), Ibunda Rifki menuturkan, penyakit misterius itu mulai dirasa buat hatinya setelah mendapat suntik imunisasi vaksin rubella saat kelas III Sekolah Dasar (SD). Pasca mendapat vaksin, Rifki langsung sakit hingga tiga bulan.
"Mengeluh sakit ulu hati, demam, batuk, pilek, dan di bagian kulit muncul seperti cacar. Sempat sembuh, kelas V disuntik rubella lagi dan sakit lagi sampai sekarang," tutur Herna, Jumat (5/7/2019).
Setelah sempat tidak dirawat karena faktor biaya, Rifki akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dan menjalani pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
"Hasilnya normal. Menurut Dinkes Kota Cimahi penyebabnya bukan dari rubella. Sakit apa belum tahu, kami bingung," katanya.
Pasca penyakit langka itu, Rifki tak bisa seceria seperti dulu. Tubuhnya menjadi kurus, juga mengalami luka. Selama di rumah, Rifki menjalani terapi akupuntur dan kontrol rutin ke puskesmas dan RSHS tiap bulan.
"Karena pakai popok, kulitnya jadi luka sampai bolong hingga terlihat tulangnya. Makanya dipakai selang kateter saja," ujarnya.
Ayah Rifki, Dede Hidayat (40) menuturkan, selama ini dia yang bekerja sebagai loper koran harus membayar sendiri biaya pengobatan. "Sewaktu dirawat pertama menggunakan SKTM, dibantu Rp 7 juta nombok Rp 3 juta untuk bayar perawatan. Setelah itu, saya daftar BPJS Kesehatan secara mandiri karena dari Pemkot Cimahi tidak dapat," ucapnya.
Sedangkan, pembayaran iuran BPJS Kesehatan harus menanggung 5 orang yaitu Dede, istri, dan 3 orang. Belum lagi beli peralatan rutin seperti kateter, salep, perban, dan lain-lain.
Padahal, dia mengaku sudah beberapa kali dinas terkait mendata ke kediamannya. "Berat banget untuk biaya. Sudah ada dari Dinsos, saya tanyakan katanya tidak terdata. Akhirnya bayar sendiri daripada menunggu pemerintah tidak ada kejelasan," jelasnya.
Herna dan Dede berharap Pemkot Cimahi memberi perhatian untuk kesembuhan Rifki. "Inginnya dapat JKN-KIS untuk anak saya. Pemerintah Kota Cimahi ngurus rakyat jangan pilih kasih. Lihat warga yang butuh bantuan, jangan yang sehat dapat bantuan tapi yang sakit 'dianggurkeun'," katanya.