Kamis, 2 Mei 2019 19:08

Alat Ukur Gempa Asal Jepang Terpasang di Kota Cimahi

Reporter : Fery Bangkit 
Alat Ukur Gempa yang terpasang di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi, Jalan Cihanjuang.
Alat Ukur Gempa yang terpasang di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi, Jalan Cihanjuang. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Kota Cimahi mendapat hibah alat ukur gempa atau inetnsity meter dari Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKD). Alat itu diterima Maret lalu.

Produk asal Jepang itu sudah terpasang di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi, Jalan Cihanjuang.
 
"Hanya 15 daerah se Jawa Barat yang diberi, di antaranya Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat yang punya sesar lembang," ujar Sekretaris BPBD Kota Cimahi, Ajat Sudrajat, saat ditemui di Kantor BPBD Kota Cimahi, Jalan Cihanjuang, Kamis (2/5/2019).

Dikatakannya, alat ukur gempa itu cara kerjanya berbeda dengan alat pendeteksi gempa atau seismograf. Jika seismograf akan memberikan tanda beberapa menit sebelum terjadi gempa karena mencatat peningkatan getaran, sedangkan intensity meter akan mencatat getaran ketika gempa terjadi. 

"Ketika terjadi gempa itu langsung ditinggalkan saja. Baru setelahnya dilihat berapa intensitasnya. Bukan ditunggu saat gempa terjadi. Alat itu terkoneksi langsung ke BMKG yang melanjutkannya ke masing-masing daerah," jelasnya. 

Kepala BMKG Klas I Bandung, Tony Agus Wijaya, mengatakan banyaknya bangunan di sepanjang jalur sesar lembang patut menjadi perhatian semua pihak. Sebab jika bangunannya tidak kuat menahan gempa, dikhawatirkan akan menimbulkan banyak korban jiwa.

Intensity meter yang dimiliki BPBD Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat juga ditujukan untuk memprediksi dampak kerusakan suatu tempat akibat diguncang gempa sehingga bisa membantu pemerintah mengambil respon cepat. 

"Datanya berbentuk jaringan di seluruh Indonesia yang dikumpulkan di BMKG. Karena Cimahi dan KBB ini sangat dekat dengan sesar lembang, intensity meter sangat membantu penanggulangan bencana agar bisa lebih cepat ditangani," jelasnya Tony. 

Berdasarkan Rencana Kontijensi Gempa Bumi Kota Cimahi, batas terdekat Kota Cimahi ke Sesar Lembang hanya berjarak 3 kilometer, tepatnya wilayah utara Kota Cimahi, yang meliputi Citeureup, Cipageran, Cileuweung, dan Cihanjuang, yang semuanya berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat.
 
Jarak Sesar Lembang ke gedung Pemerintahan Kota Cimahi yang merupakan objek vital, hanya berkisar 5,8 sampai 6 kilometer. Melihat fakta tersebut, masyarakat Kota Cimahi diminta untuk mewaspadai bahaya potensi gempa yang bisa dihasilkan oleh Sesar atau Patahan Lembang.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bahkan mengungkapkan jika Sesar Lembang bisa menghasilkan gempa bumi bermagnitudo 6,5-7 yang saat ini tengah dalam fase pelepasan energi menuju pengulangan gempa. Jika gempa itu terjadi, Kota Cimahi, khususnya di kawasan utara akan mengalami kerusakan cukup parah mengingat jarak tidak jauh dari pusat gempa.

Baca Lainnya