Selasa, 9 Juli 2019 17:15

Aktifitas Mahal Warga di Saguling Bandung Barat, Ongkos Bisa Rp 60 Ribu/hari

Reporter : Fery Bangkit 
Jembatan apung yang menghubungkan Kampung Mariuk, Desa Girimukti, Saguling dengan Kampung Cibogo, Desa Pangauban, Batujajar.
Jembatan apung yang menghubungkan Kampung Mariuk, Desa Girimukti, Saguling dengan Kampung Cibogo, Desa Pangauban, Batujajar. [ferybangkit]

Limawaktu.id- Tarif aktifitas perekonomian warga di Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ternyata cukup tinggi. Sebab, mereka yang hendak bekerja atau ke pusat ekonomi ke wilayah Batujajar atau Cimahi harus melintasi perairan Waduk Saguling.

Harga tarif perahu yang digunakan untuk menyebrang pun relatif tinggi, yakni Rp 30 ribu sekali jalan. Jika pulang pergi warga harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 60 ribu. Memang ada jalur darat yang bisa ditempuh, namun jarak dan waktu tempuhnya lebih jauh.

Pada Ramadan 2018 lalu, ada pihak swasta yang mencoba membangun jembatan apung untuk umum. Alhasil, jembatan itu kini menjadi akses andalan warga yang lebih ekonomis.

Jembatan sepanjang 425 meter itu menghubungkan Kampung Mariuk, Desa Girimukti, Saguling dengan Kampung Cibogo, Desa Pangauban, Batujajar. Lebar jembatan itu sepanjang 4 meter dan cukup untuk dua sepeda motor.

Sesuai namanya, jembatan apung itu ditopang oleh beberapa ratus pelampung yang berada di bawahnya. Sementara badan jembatan terbuat dari kayu, jembatan apung pun akan bergoyang jika ada kendaraan yang melintas.

"Kami berupaya untuk membantu warga, yang sebelumnya harus ribet pakai perahu dan biayanya cukup tinggi," tutur Abdul Gofur, salah seorang pengelola jembatan apung, Selasa (9/7/2019).

Jembatan apung ini dikelola oleh swasta, di wilayah KBB ada tiga jembatan apung dan satu lainnya berada di Baleendah, Kabupaten Bandung. Tak ayal, ada retribusi untuk biaya perawatan jembatan.

Untuk pejalan kaki dikenakan tarif Rp 2 ribu, pemotor Rp 5 ribu sekali melintas. Kendati begitu, pengelola tak mematok harga tersebut. "Kalau untuk anak sekolah digratiskan, juga untuk pegawai desa, guru. Kita tidak paksakan (tarif), dilihat dari kemampuan dan kesadaran yang melintas," ujar Gofur.

Kini jembatan apung ini juga menjadi salah satu destinasi wisata bagi warga. Pasalnya, panorama Waduk Saguling dan eceng gondok menjadi titik berfoto yang indah. Selain itu, warga juga membangun warung-warung makan bagi penikmat wisata jembatan apung.

Baca Lainnya