Waspada Ancaman Stunting Ditengah Pandemi Covid-19, Ini Jumlahnya di Cimahi
Cimahi - Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna mengingatkan semua element masyarakat tetap waspada dengan ancaman stunting, meskipun saat ini ada pandemi virus korona atau Covid-19.
Hal itu disampaikan Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna usai membuka acara Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Stunting, serta Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) tingkat Kelurahan Leuwigajah yang berlangsung di gedung Cimahi Techno Park Jalan Baros, Jumat (21/8/2020).
"Kepedulian kita pada masalah stunting tidak boleh setengah-setengah karena anak-anak adalah penerus kita untuk pembangunan bangsa," kata Ajay.
Dia mengklaim, angka stunting di Kota Cimahi mengalami penurunan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini. Angka stunting pada balita tahun 2017 sebesar 15,74 %, menurun menjadi 9,75 % di tahun 2018. Sementara untuk tahun 2019, angka stunting di Kota Cimahi menurun lagi menjadi 9,07 %.
"Di Kota Cimahi, terdapat penurunan angka stunting selama tiga tahun terakhir," sebut Ajay.
Dijelaskan Ajay, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. "Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir, akan tetapi kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun," terangnya.
Menurutnya, stunting pada balita memberikan dampak yang kurang menguntungkan, antara lain mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, dan gangguan lain.
"Penanganan tentang gizi dan kesehatan hanya berkontribusi 30 persen, adapun 70 persen penyebab stunting terkait sanitasi, pola pengasuhan, ketersediaan dan keamanan pangan, pendidikan, kemiskinan, dam situasi politik," terangnya.
Lebih jauh dikatakan Ajay, kejadian stunting dapat dicegah dengan berbagai cara. Hal yang paling penting adalah mempersiapkan calon ibu agar cukup gizi pada saat hamil, salah satunya dengan program pendampingan seribu hari pertama kehidupan.
"Cara pencegahan yang lain adalah memberikan ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI, pemberian pola makan, pola asuh, dan sanitasi yang baik kepada anak.
Pemberian pola makan dengan memberikan setengah piring sayur dan buah. Setengah piring lagi makanan pokok, berupa karbohidrat dan lauk pauk yang mengandung protein hewani dan nabati," beber Ajay.
Para orang tua pun, kata Ajay, dituntut memberikan sanitasi yang memadai agar anak terbebas dari cacing. Hal ini bisa dilakukan melalui penyediaan air bersih, jamban sehat dan bersih, serta cuci tangan memakai sabun dan air mengalir,.serta tidak kalah penting adalah memantau pertumbuhan balita di Posyandu.