Viva Yoga Tantang Santri Sunan Drajat Berwirausaha di Luar Jawa
Limawaktu.id, Lamongan - Kementerian Transmigrasi membuka peluang besar bagi para santri dan alumni pondok pesantren untuk menjadi motor penggerak ekonomi di berbagai kawasan transmigrasi di Indonesia. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional bertema “Kemandirian Pesantren Melalui Transmigrasi” yang berlangsung di Hall Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur.
Dalam pemaparannya, Viva Yoga memberikan apresiasi tinggi terhadap model pendidikan di Pondok Pesantren Sunan Drajat. Menurutnya, pesantren yang diasuh oleh Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur ini tidak hanya sukses menanamkan pemahaman agama yang kuat secara tekstual dan kontekstual, tetapi juga berhasil membangun ekosistem kewirausahaan yang masif dan mandiri.
"Apa yang dilakukan di Sunan Drajat bisa dijadikan contoh untuk pesantren lainnya di Indonesia. Di sini ada unit usaha yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan jari—mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, kelautan, hingga tata rias. Semua dijalankan dengan produk turunan seperti garam, telur, pupuk, dan ayam potong yang menopang kemandirian pangan," ujar Viva Yoga, Kamis, 1 Oktober 2026.
Lebih lanjut, pria kelahiran Lamongan ini menjelaskan bahwa kawasan transmigrasi saat ini telah bermutasi menjadi wilayah pertumbuhan ekonomi baru yang sangat potensial. Kawasan-kawasan ini bersifat inklusif dan terbuka bagi pelaku usaha dari berbagai skala, mulai dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga investasi bermodal besar.
Viva Yoga menilai, bekal keterampilan bisnis dan kemandirian yang diperoleh santri selama di pondok merupakan modal strategis yang sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan potensi lahan di daerah transmigrasi.
"Kawasan transmigrasi butuh pengembangan. Di sana ada lahan yang membutuhkan sumber daya manusia untuk berinovasi dan berinvestasi. Santri dan alumni Sunan Drajat memiliki peluang besar untuk memberikan kontribusi nyata di sana," tambahnya.
Dukungan pemerintah terhadap peran komunitas keagamaan di wilayah transmigrasi bukan tanpa bukti. Kementerian Transmigrasi mencatat telah menginvestasikan anggaran lebih dari Rp20 miliar sepanjang periode 2015 hingga 2024. Dana tersebut dialokasikan untuk membangun berbagai fasilitas spiritual dan sosial, seperti Islamic Centre, asrama santri, dan masjid.
Fasilitas-fasilitas tersebut tersebar di sejumlah kawasan transmigrasi strategis, meliputi wilayah Aceh, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, hingga Maluku Utara.
"Infrastruktur fisik telah kami bangun secara bertahap dalam satu dekade terakhir. Kini, saatnya kita bersama-sama mengisi infrastruktur ekonomi tersebut, yang digerakkan langsung oleh inovasi dan produktivitas para santri," pungkas Viva Yoga.
Kegiatan seminar nasional yang diinisiasi oleh Persatuan Santri Alumni Sunan Drajat (Pessandra) ini turut dihadiri oleh jajaran tokoh penting, di antaranya Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat H. Murobby Binnur, Ketua Umum Pessandra S. Muhajirin, serta Direktur Utama Lembaga Perekonomian H. Anas Al Hifni.