Selasa, 18 Agustus 2026 8:59

Usung Konsep Sendratasik, Larasvara Perkuat Ekosistem Ekraf Kota Cimahi

Limawaktu.id, Kota Cimahi - Membawa semangat baru dalam industri kreatif lokal, ansambel seni asal Kota Cimahi resmi berganti nama dari Tapak Arum Ananta menjadi Larasvara. Perubahan identitas ini sekaligus menandai transformasi artistik kelompok tersebut yang kini mengusung konsep Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik).

Identitas baru ini diperkenalkan secara resmi kepada publik dalam Festival Kreasi Kemerdekaan yang berlangsung di Lantai 2 CimaArt, Cimahi Mall, pada Minggu (16/8/2026). Acara yang diinisiasi oleh Komunitas Rumah Literasi Bunga Rampai (RLBR) tersebut menjadi momentum penting bagi Larasvara untuk memperkenalkan karakter visual dan musikalitas barunya ke kancah seni pertunjukan.

“Rebranding ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan strategi visioner untuk memperkuat persatuan para seniman lintas generasi di Kota Cimahi. Kehadiran Larasvara diharapkan mampu menjadi katalisator dalam pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) daerah melalui eksplorasi karya yang adaptif dan inklusif,” terang personal Larasvara, Virigi Ali, Selasa, 18 Agutus 2026.

Menurut Ali, dalam penampilan debutnya, Larasvara langsung memukau penonton dengan membawakan tiga buah karya yang merefleksikan keragaman referensi musik mereka.

Ansambel ini menyajikan lagu legendaris barat “Close to You” karya The Carpenters, tembang patriotik klasik “Selendang Sutera” karya maestro Ismail Marzuki, serta sebuah single orisinal perdana bertajuk “Senyum Cimahi.”

Single “Senyum Cimahi” menjadi sorotan utama dalam festival tersebut. Karya orisinal ini dikemas secara kontemporer, memadukan puisi sastra, lirik artistik, serta aransemen musik yang mengombinasikan nuansa pop modern dengan warna musik tradisional karawitan. Lewat komposisi ini, Larasvara berhasil menangkap romantisme sekaligus dinamika sosial kehidupan urban di Kota Cimahi.

“Bagi Larasvara, musik ditempatkan bukan sekadar sebagai estetika bunyi, melainkan sebagai medium komunikasi yang kuat untuk menyampaikan gagasan, suasana, cerita, dan rekam jejak pengalaman masyarakat melalui bahasa universal seni,” katanya.

Penerapan konsep Sendratasik disinyalir akan membuka ruang kolaborasi yang jauh lebih luas bagi ekosistem seni di Cimahi. Dengan menyatukan unsur musik, tari, drama, sastra, hingga tradisi dalam satu panggung, Larasvara berkomitmen melahirkan pertunjukan yang lebih dinamis, megah, dan kaya akan nilai budaya.

Energi baru juga datang dari personel baru. Ayuni mengatakan hadirnya Ilona dengan instrumen pianika memberikan warna tersendiri dalam perjalanan musikal Larasvara.

“Kami ada energi baru, yaitu Ilona yang memainkan instrumen pianika. Ini menjadi warna baru bagi Larasvara,” ungkap Ayuni.

Sementara itu, Bob, drummer Larasvara, melihat proses bermusik sebagai ruang untuk membangun kepekaan dan rasa. Baginya, setiap irama bukan hanya persoalan teknik bermain, tetapi bagaimana musik dapat memiliki jiwa.

“Ini sebagai cara bermain rasa dalam setiap irama di Larasvara,” ujarnya.

Debut Larasvara menjadi penanda babak baru perjalanan sebuah ansambel yang ingin mempertemukan berbagai bentuk seni dalam satu ruang kreatif. Dari musik, sastra, tari, drama hingga warna tradisi, Larasvara membawa gagasan bahwa kreativitas dapat tumbuh ketika seniman tidak berjalan sendiri.

Melalui nama barunya, Larasvara membawa semangat untuk terus berkarya, memperkuat identitas seni pertunjukan, serta menjadikan kreativitas sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Kota Cimahi yang tumbuh bersama lintas generasi.