Minggu, 11 Januari 2026 9:38

Teddy Suchyar Ungkap Deforestasi Saat Pameran Lukisan Pohon untuk Kehidupan

Limawaktu.id, Kota Bandung – Wali Kota Bandung HM Farhan mengungkapkan, Kota Bandung memiliki daya tarik yang berasal dari berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan dan aktivitas berkarya. Dalam konteks tersebut, Kota Bandung sejak awal memang dibangun sebagai pusat pergerakan.

“Dan kota Bandung ini,pohon-pohonnya memang menjadi sumber kehidupan. Anda bisa menyaksikan sendiri, salah satu kota paling banyak pohonnya  tuh ya, kalau di Indonesia adalah kota Bandung,” ungkap Farhan, saat membuka Pameran Lukisan bertajuk Pohon Untuk Kehidupan, di Dago Tea House, Jalan Ir, H. Djuanda, Bandung, Sabtu, 10 Jnauari 2026.

Menurut Farhan, hal itu bukan tidak ada tantangan, karena bagaimanapun juga kita ini menjadi bagian dari sebuah ekosistem. Ekosistem biologis maupun ekosistem dalam kekaryaan. Ekosistem dalam industri, demikian juga ekosistem dalam kehidupan sosial.

“Saya sangat beruntung bisa menjadi anak Bandung yang tumbuh di Bandung, berkarya diluar, balik lagi memimpin Bandung, dan sudah mendapati kota saya menjadi salah satu kota terpadat. Bukan oleh manusia, tetapi oleh talenta-talenta terbaik di Indonesia,” katanya.

Sedangkan salah satu peserta pameran Teddy Suchyar menjelaskan, dirinya memamerkan karya lukis yang bertemakan deforestasi, yaitu itu pengalihan hutan ke perkebunan, dari tanaman hutan ke tanaman bukan kayu misalnya sawit.

“Jadi hutan asli itu hilang. Yang tersisa pohon tumbang kemarin yang terjadi di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, itu karena deforestasi. Jadi masalah ini seperti masalah nasional,” pungkas Teddy. .

Dikatakanya, keterlibatannya dalam pameran bertema Pohon untuk Kehidupan ini karena dirinya merupakan salah satu anggota dari Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN) Wilayah Bandung Raya, serta sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang terjadi saat ini.

Sementara, Kurator Pameran Diyanto mengatakan, pameran kali ini sebenarnya secara gagasan bukan untuk mengarahkan,  hanya kembali memaknai misalnya berbagai pepahaman kita tentang pohon. Pameran ini juga  menjadi ruang refleksi  terutama bagaimana para pelukis ini kemudian menyumbangkan pemikirannya dan  bagaimana  cara melihat tentang pohon.

“Pameran kali Ini merupakan ekspresi dari para pelukis  barangkali baik dari sisi keintiman mereka sendiri secara personal atau juga pohon dalam pemahaman keterkaitannya dengan lingkungan,” kata Diyanto.

Ketua Asosiasi Pelukis Nusantara (Aspen) Wilayah Bandung Raya Bakrie Baharuddin menyebutkan, Aspen dibentuk setahun yang lalu,  Aspen itu adanya di pusat setiap pameran-pameran para pelukis Bandung Raya ikut ke pusat.

“ jadi ini untuk yang di Bandung ini pameran pertama dan kebetulan temanya juga ini kayaknya pas sekali  dengan kondisi lingkungan yang terjadi saat ini. Penentuan tema juga dilakukan bukan karena bukan melihat musibah dulu, kebetulan datang musibah, mungkin masih cocoklah dengan keadaan situasi nasional,” sebut Bakrie.

Pameran Lukisan yang dimulai pada 10 Januari hingga 31 Januari 2026 ini melibatkan 48 pelukis dari Bandung Raya, dengan pesan yang disampaikan  untuk menggugah masyarakat terutama pata pemangku kepentingan di Indonesia

“kita lihat sekarang dimana-mana pembangunan segala macam itu kan ini apa, hutan-hutan sudah berubah fungsi makanya kita menggugah kepada para pemangku kepentingan untuk memperhatikan lingkungan,” papar Bakrie.