SMA Pasundan 1 Bandung Harus Jadi Etalase Sekolah Pasundan
Limawaktu.id, BANDUNG – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Pasundan meminta SMA Pasundan 1 Bandung harus menjadi etalase nyata sekolah-sekolah Pasundan melalui peningkatan kualitas pendidikan, prestasi akademik maupun nonakademik, serta kepercayaan masyarakat yang terus meningkat.
Hal tersebut disampaikan Kepala SMA Pasundan 1 Bandung Drs. H. Cahya M.si, di kantornya, Jalan Balonggede, Kota Bandung, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, membangun sekolah yang berkualitas harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah sebagai teladan bagi seluruh warga sekolah.
"Membangun sekolah harus dimulai dari diri kepala sekolah sendiri. Alhamdulillah sejak saya dilantik sampai sekarang belum pernah tidak masuk sekolah. Saya selalu datang lebih awal sekitar 6.10 WIB dan pulang sebelum magrib secara rutin," ujar Cahya.
Ia mengatakan, keberhasilan SMA Pasundan 1 Bandung tidak lepas dari budaya disiplin yang diterapkan secara konsisten. Dampaknya terlihat dari tingginya minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah tersebut.
Cahya mengungkapkan, SMA Pasundan 1 Bandung bahkan tidak lagi mengandalkan promosi melalui brosur. Tingginya kepercayaan masyarakat membuat sekolah lebih mengutamakan proses administrasi dan seleksi bagi calon peserta didik.
"Kami tidak membuat brosur. Calon siswa yang datang mendaftar langsung mengurus administrasi dan tetap melalui proses seleksi. Bahkan banyak yang harus masuk daftar tunggu karena peminatnya sangat tinggi," katanya.
Kepercayaan masyarakat itu, lanjutnya, didukung oleh capaian akademik para lulusan. Berdasarkan jumlah siswa yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), SMA Pasundan 1 Bandung berada di peringkat ke-11 jika dibandingkan dengan 27 SMA negeri di Kota Bandung. Di antara sekolah swasta, sekolah tersebut menjadi salah satu yang terbanyak meloloskan lulusannya ke PTN.
Cahya yang juga merupakan Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah Pasundan ini menekankan terdapat tiga aspek utama yang harus menjadi perhatian setiap kepala sekolah, yakni infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), dan menu pendidikan.
Menu pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai kurikulum nasional, tetapi juga penguatan karakter melalui ciri khas pendidikan Pasundan.
"Selain menjalankan kurikulum nasional, kami menerapkan ciri khas Pasundan, seperti membaca Al-Qur'an setiap hari, salat dhuha, Jumat Berkah, dan berbagai kegiatan pembinaan karakter lainnya. Tujuannya membentuk akhlak peserta didik," jelasnya.
Cahya menegaskan bahwa sekolah pada hakikatnya merupakan lembaga pelayanan publik. Oleh karena itu, kepuasan masyarakat harus menjadi orientasi utama dalam penyelenggaraan pendidikan.
"Sekolah adalah pelayan masyarakat. Tugas kita bagaimana masyarakat merasa puas menyekolahkan anaknya di tempat kita. Kalau masyarakat puas, itu akan menjadi promosi paling kuat," tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Kesiswaan YPDM Pasundan, Dr. Soma Gantika, mengingatkan para kepala sekolah agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tidak hanya mengandalkan promosi konvensional.
Menurutnya, pendekatan personal jauh lebih efektif dalam membangun citra sekolah dibandingkan sekadar menyebarkan brosur.
"Kepala sekolah harus adaptif dan mampu membaca perkembangan zaman. Jangan hanya membuat brosur. Bangun komunikasi dan pendekatan personal dengan para guru maupun kepala sekolah lain. Hal-hal sederhana, seperti memberikan perhatian saat ada rekan kepala sekolah yang berulang tahun, akan meninggalkan kesan baik dan memperkuat hubungan antarlembaga," ujar Soma.
Ia berharap seluruh kepala sekolah di lingkungan Pasundan terus meningkatkan inovasi, pelayanan, dan kualitas pendidikan sehingga sekolah-sekolah Pasundan semakin dipercaya masyarakat serta mampu mencetak lulusan yang berprestasi dan berkarakter.